Sebenarnya Sama Mudahnya


Dikutip dari : shalat khusuk

ini ada artikel dari Pak Deka, yang saya kutip dari Milis Dzikrullah dengan judul SEBENARNYA SAMA MUDAHNYA

Sudah umum persepsi yang melekat diotak sebagian besar kita bahwa untuk beriman kepada Allah itu sungguh sangat sulit sekali. Begitu kita ingin berbicara tentang iman kepada Allah, maka yang muncul kemudian adalah berbagai teori, definisi, dan tata cara yang kadangkala membuat kita kesulitan untuk menjalankannya. Sehingga didalam benak kita sering muncul kata-kata tak terucapkan: “Oh…, betapa sulitnya iman itu. Ah…, nggak mungkin rasanya saya untuk beriman seperti itu. Aa…, iman itu rasanya seperti berada di puncak menara gading yang tak akan pernah tersentuh oleh orang-orang biasa seperti saya…, dan berbagai keluhan lainnya”.

Kalau dilihat dengan seksama, kadangkala antara berbagai teori, definisi dan tata cara untuk mendapatkan iman itu satu dengan yang lainnya susah untuk ditemukan benang merah yang saling menghubungkannya. Padahal yang sedang dibicarakan dan dipelajari itu adalah hal yang sama dan sangat sederhana sekali, yaitu tentang Iman Kepada Allah, misalnya. Dan dasar pijakan berfikirnya juga selalu didengung-dengungkan dari dua pokok yang sama, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Akan tetapi begitu ilmu tentang Iman kepada Allah itu sampai kepada kita, yang kita dapatkan adalah ilmu olah pikir, ilmu olah gatuk-gatuk, ilmu olah katanya-katanya, ilmu olah hafalan… dan sebagainya, sehingga yang kita dapatkan sungguh membuat sebagian besar kita menjadi bingung… ngung…, ngung untuk memilih mana yang pas buat kita. Kita jadi saling rancu satu sama lainnya untuk satu hal yang sama, yaitu IMAN kepada Allah…

Keadaan seperti ini persis sama dengan saat kita diminta untuk memahami tentang batang sebuah pohon mangga, kita malah asyik masyuk membahas tentang cabang, ranting, daun, bahkan kuncup dari pohon mangga tersebut. Kita asyik membahas dan mengolah kata bahwa ada daun yang hijau, ada daun yang kuning, ada daun yang mengering, dan berbagai ada-ada lainnya. Akhirnya yang kita bahas, kita diskusikan, kita seminarkan, dan yang kita pahami hanyalah sebatas ilmu olah kata tentang daun. Sedangkan batang pohon mangga itu tetap menjadi sebuah misteri yang tak terkuakkan bagi kita. Karena memang kita tidak pernah membuka, menguliti, dan mengamati pohon mangga itu dari dekat. Kita tidak pernah mengeksplorasi pohon mangga ini bagain perbagian.

Kalau dalam membahas pohon mangga itu hanya sebatas memakai ilmu olah kata itu tadi, maka kita akan bertabrakan dengan ilmu olah-olah kata yang dimiliki oleh orang lain. Sebab setiap orang bisa memandang sebuah pohon mangga dari sisi yang berbeda sesuai dengan isi otak mereka pula. Dan itu akan ramai sekali….

Sementara Rasulullah Muhammad shalallahu `alaihi wasallam sudah terlebih dahulu ketemu dan masuk kedalam keadaan Iman kepada Allah itu, lalu keluarlah ajakan Beliau: “wahai sahabatku, marilah masuk kedalam keadaan iman kepada Allah. Iman itu enak…, iman itu bahagia, iman itu nikmat…!. Wahai sahabatku, mari beriman kepada Allah…, singgahlah untuk beriman kepada Allah… Singgahlah untuk masuk kerumahku, rumah iman yang penuh dengan kesukacitaan”.

Demikianlah Beliau menyampaikan berbagai ajakan lainnya agar para sahabat Beliau masuk kedalam keadaan demi keadaan yang diterangkan Allah didalam Al Qur’an. Lalu masuklah semua sahabat Beliau kesana… DERR…, DERR…, sehingga saat itu tidak banyak aktifitas seperti yang getol kita lakukan saat ini, yaitu menafsirkan Al Qur’an dan mengupas Al Hadist. Saat itu tidak ada tafsir…, tafsir…, dan tafsir terhadap Al Qur’an dan Al Hadist. Tidak ada juga apa yang namanya kajian…, mengaji…, dan mengaji. Tidak ada itu semua.

Yang ada adalah begitu Beliau mendapatkan wahyu dari Allah, Beliau DUDUK dalam suasana wahyu itu, kemudian Beliau kabarkan wahyu beserta keadaannya itu kepada para sahabat Beliau. Kabar dari Beliau itulah yang kemudian dinamakan orang sebagai Al Hadist. Beliau-beliau hanya tinggal melakukan…, melakukan…, dan melakukan apa yang diperintahkan Al Qur’an sesuai dengan lingkungan yang ada saat itu. Jadi Al Hadist itu bukanlah sekedar perkataan dan perbuatan Beliau saja. Tapi Al Hadist itu adalah DUDUK Beliau dengan sangat sempurna pada sebuah KEADAAN yang diterangkan oleh Al Qur’an. Beliau hanya Just do it…, dan hasilnya adalah sebuah keniscayaan peradaban yang cemerlang ditengah-tengah kegelapan disaat itu…

Kalau bagi kita saat ini sungguh sangat berbeda. Kita lebih banyak memberi makan otak kita dengan berbagai bacaan dan kajian, tapi minus keadaan atau suasananya. Kita tahu dan hafal banyak istilah agama, tapi saat melaksanakan aturan agama itu dada kita garing. Semakin otak ini kita isi dengan berbagai kajian dan tafsiran terhadap Al Qur’an dan Al Hadist, maka semakin agama ini terasa berat. Kita kadangkala tidak tahu lagi mana aturan agama ini yang harus kita jalankan terlebih dahulu dan mana yang kemudian.

Misalnya saja, pengetahuan agama yang paling umum dan paling dasar yang kita dapatkan adalah bahwa untuk bisa beriman kepada Allah dengan mudah, terlebih dahulu kita haruslah berhati-hati dengan makanan, minuman dan pakaian yang kita lekatkan ketubuh kita. Karena makanan dan minuman serta pakaian itu akan mempengaruhi segumpal daging didalam tubuh kita yang disebut sebagai HATI. Terutama, kalau makanan dan minuman kita adalah barang yang baik dan halal, maka dikatakan hati kita juga akan menjadi bersih dan mudah untuk beriman kepada Allah. Akan tetapi kalau makan dan minuman kita dari barang yang haram dan yang tidak baik, maka kita diminta untuk percaya bahwa hati kita pastilah akan hitam, gelap, dan tidak mudah untuk beriman kepada Allah.

Sementara dinegara kita ini, hampir tidak ada wilayah atau area yang benar-benar bersih dari hal-hal yang diharamkan seperti itu. Misalnya semua uang yang beredar saat ini nyaris berasal dari bank convensional, baik dari dalam maupun luar negeri, yang konon katanya itu adalah peredaran uang yang tidak syar’i. Dan kita membeli makanan, minuman dari hasil peredaran uang yang dianggap sebagai non syar’i itu. Akhirnya kita menjadi ragu-ragu kembali dengan kualitas keimanan kita kepada Allah.

Dari hal makanan, minuman, dan hati ini kemudian lahirlah berbagai ilmu tentang tata-cara agar kita bisa menyucikan harta benda dan hati kita. Ada fatwa ini dan fatwa itu dari otoritas ulama tentang bagaimana ekonomi ala islami dan bagaimana ekonomi ala kafirin. Ditambah dengan ancaman neraka dan iming-iming syurga, akhirnya kita lebih sibuk mengingat, membicarakan, dan berpolemik dengan istilah-istilah yang dibumbui dengan kata syariah versus non syariah. Kita dipaksa untuk saling bercerita dan berdebat tentang ekonomi syariah versus ekonomi konvensional. Gegap gempita sekali…

Disisi lain, agar kita bisa membersihkan hati kita, maka tubuh dan hati tersebut kemudian dibelah-belah orang pula menjadi bagian-bagian kecil dengan nama-nama yang keren, yaitu lathaif. Kemudian lathaif-lathaif itu harus pula kita sucikan dengan dzikir-dzikir tertentu (lihat buku Membuka Ruang Spiritual, by Deka). Maka sibuk pulalah kita bersih-bersih hati itu, sehingga kadangkala iman kepada Allah yang kita harapkan malah tidak muncul. Kita jadi sibuk sendiri dengan segala dzikir dan wasilah yang kita lakukan disetiap saat itu.

Untuk melakukan sebuah perbuatan atau aktifitas apapun juga, terutama yang berkaitan dengan agama, pertanyaan standar yang ditanamkan kedalam otak kita oleh para ulama adalah: Ada contohnya nggak dari Nabi?. Ada hadistnya nggak?. Hadistnya shahih nggak?. Dan setelah itu pastilah muncul argumen-argumen yang kadangkala dari dulu, dari zaman ke zaman, rasanya hanya itu ke itu saja.

Baru dari topik sederhana tentang bagaimana agar kita bisa beriman kepada Allah, ternyata telah muncul dengan menggurita topik-topik lain yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk kita perbincangkan. Pantas saja akhirnya kita jadi bingung sendiri. Boro-boro iman kita kepada Allah bisa meningkat, malah sebaliknya kita terjerembab kepada ketidak harmonisan hubungan antar sesama muslim, maupun sesama manusia.

Dengan bekal ilmu “bingung dan merasa tidak bisa” seperti itulah yang menyebabkan munculnya dengan subur orang-orang atau kelompok-kelompok, yang kita anggap bisa membuat kita beriman kepada Allah. Tanpa orang-orang atau kelompok-kelompok tersebut, kita pikir, kita tidak akan mungkin atau tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah. Makanya dengan semangat 45 kitapun mengikuti pengajian demi pengajian, pelatihan demi pelatihan, dzikir khusus demi dzikir khusus yang dibimbing oleh orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut.

Apalagi pada pelatihan pertama bonusnya ada, yaitu ada perubahan yang sangat berarti yang kita dapatkan setelah kita mengikuti cara-cara tertentu dari mereka itu. Misalnya bagi seseorang yang sakit bisa merasa sembuh seketika setelah dia dido’akan atau meminum air yang telah dido’akan oleh seseorang. Dengan itu kita seakan-akan bisa merasakan sebuah metamorphosis spiritual karena ada bantuan dan peran dari mereka yang kita anggap bisa membantu kita.

Akan tetapi kesalahan umum yang kita lakukan kemudian adalah bahwa untuk besok-besoknya, saat kita sendirian dirumah, kita tidak bisa lagi mengulangi capaian kita seperti saat kita dido’akan atau dibantu oleh orang lain sebelumnya. Ada sebuah ketidakpercayaan kita terhadap diri kita sendiri. Bahwa tanpa peran orang tersebut kita tidak akan pernah bisa mengulangi keberhasilan kita tempo hari.

Akhirnya, seiring dengan berjalannya waktu, dengan sangat cepat orang-orang atau kelompok-kelompok tertentu tersebut sudah berada dipuncak menara gading sebuah kepercayaan. Tiba-tiba saja penghormatan dan pengkultusan kita terhadap mereka jadi begitu tingginya, sehingga fungsi merekapun kemudian berubah menjadi fungsi AVATAR atau PERANTARA. Mereka kita anggap sebagai seorang “MAHA GURU”, MURSYID. Seorang yang punya peran yang sangat besar atas keberhasilan perkembangan rohani kita untuk masa-masa mendatang. Seakan-akan ada mereka diantara kita dengan Allah. Tanpa peran serta mereka, seakan-akan Allah akan sangat sulit kita jangkau.

Tanda-tanda utama bahwa kita telah mengkultuskan seseorang menjadi mursyid atau avatar kita adalah saat kita punya masalah, seketika itu juga kita cenderung untuk minta tolong, atau minta didoakan kembali oleh Sang Guru tersebut agar masalah kita itu segera lenyap dari hadapan kita. Kita tidak percaya diri untuk langsung menghadap dan berdo’a kepada Allah. Kita lalu datang kehadapan Sang Guru dalam keadaan rohani yang sempit dan mengecil. Seakan-akan keadaan rohani jauh berada dibawah rohani Sang Guru. Sehingga apapun kata Sang Guru akan kita lakukan dengan membabi buta. Secara psikologis, keadaan rohani yang seperti ini akan sangat mudah untuk dipengaruhi. Persis seperti orang yang siap untuk dihipnotis.

Tambahan pula, karena hasilnya juga ada, dimana keadaan kita berubah, kita menjadi sedikit lebih tenang, masalah kita seakan-akan sudah teratasi, dan sebagainya, maka kepercayaan kita akan menjadi semakin kuat bahwa hanya dan hanya atas adanya peran Sang Guru yang sangat besarlah yang menyebabkan kita baru bisa beriman kepada Allah. Dan kepercayaan seperti itu terjadi disetiap saat, disetiap waktu. Tanpa kita mengingat dan mengikatkan kesadaran kita kepada Sang Guru sebelum kita melakukan aktifitas agama, rasa-rasanya kita tidak akan pernah percaya diri untuk bisa beriman kepada Allah…

Padahal sebenarnya, kalaupun ada Sang Guru itu, peran beliau tidak lebih hanyalah sekedar sebagai penunjuk arah kesadaran yang PAS saja bagi kita pada SAAT AWAL perjalanan kita agar kita bisa keluar dari wilayah ketidaksadaran yang telah kita tempati sekian lamanya. Beliau hanyalah menunjukkan agar kita bisa duduk “di rumah” kita sendiri dengan sadar, sekali lagi dengan sadar…

Dulu, saat saya punya masalah, saya juga pernah datang kepada pak Haji Slamet Utomo dan utdz Abu Sangkan untuk minta dido’akan agar masalah saya teratasi. Sambil tersenyum arif Beliau berkata: “Allahmu manaaa..?. Suatu saat saya gelisah dan khawatir tentang sesuatu hal, lalu saya datang kepada Beliau untuk minta dido’akan, Beliau kembali hanya berkata lembut dan mengena sekali: “ada masalah apa engkau dengan Allah?, sehingga Allah tidak berkenan kepadamu..”. Sungguh dua kalimat inilah yang paling dalam menancap kedalam pikiran dan perasaan saya sampai saat ini. Kalimat tauhid banget…

Dalam pertemuan demi pertemuan saya selanjutnya dengan orang tua saya yang sangat saya hormati Pak Haji Slamet Utomo dan Utdz Abu Sangkan seringkali Beliau hanya mengajak saya untuk duduk didalam benteng Allah “laa ilaha illalhah…, DERR…, DERR…, DERR!”, lalu beliau berpesan kepada saya:

“Nah duduklah kamu disini…, didalam benteng Allah, dirumahmu…, diamlah dengan sabar (patien) seperti sabarnya seorang pasien dirumah sakit menunggu dokter yang akan memeriksa dan mendiagnosa penyakitnya…. Kamu harus begitu pula. Sabar…, patien. Duduklah dengan santun, merendah, dan DIAM. Karena saat itu kamu memang sedang berduaan dengan Allah. Saat itu kamu sedang menunggu-nunggu suatu petunjuk atau pengajaran dari-Nya. Lalu kemudian, saat pengajaran Allah itu “TURUN”, DERR…, DERR…, lalu kamu bacalah…, iqraa lah…, apa-apa yang diajarkan Allah kepadamu itu, sampai kamu paham. Sampai paham…

Ulang-ulang lah kamu duduk dirumahmu sendiri. Sebab kalau tidak diulang-ulang, nanti kamu akan lupa dan bingung untuk masuk kembali kerumahmu sendiri. Kamu jangan lupa lagi rumahmu ini…

Aku juga punya rumah sendiri. Aku juga akan duduk dirumahku sendiri. Syukur-syukur kamu bisa mampir dan singgah kerumahku, sehingga kamu bisa menjadi temanku, teman seperjalananku”.

Sederhana sekali yang Beliau ajarkan. Beliau sampaikan dulu ilmunya melalui sebuah wejangan singkat dan tidak rumit, tentu saja ada dasarnya didalam Al Qur’an dan Al Hadist. Lalu Beliau “mengajak” saya berlatih memasuki suasana atau keadaan dari ilmu tersebut… DERR. Kemudian saya duduk bersama Beliau beberapa saat, bisa 10 menit atau bisa pula 1 jam atau lebih, diwilayah realitas ilmu tersebut. Jadi ada ilmunya dan ada pula realitasnya. Ilmu itu ternyata mewakili sebuah realitas. Saya jadi yakin bahwa Al Qur’an itu adalah dari Allah, dan Muhammad SAW adalah memang Rasulullah.

Alhasil saya bisa pulang kerumah dengan lengkap dan utuh, walau kadang-kadang saya ada TELMInya juga. Sebab adakalanya ilmu dan wejangannya sudah saya dapat, tapi realitas keadaan dan suasananya baru saya pahami beberapa jam kemudian, atau beberapa hari kemudian, atau bisa pula beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian. Tapi kegagalan itu tidak menjadi masalah bagi saya, karena memang bukan Beliau kok yang berhak untuk mengajari saya. Hanya Allah lah yang berhak mengajari dan menuntun saya untuk memahami apa-apa yang tidak saya ketahui.

Dengan Beliau, Al Qur’an Al Hadist itu tidak ditafsirkan atau tidak dibahas panjang lebar. Ilmu itu tidak dibahas menurut tafsiran imam ini, imam itu, ulama ini ulama itu. Tidak dibahas sanadnya, tidak dibahas fiqihnya, tidak mutar-mutar nggak karuan dalam permainan kata dan kalimat. Sebab Al Qur’an itu memang hanya memuat hal-hal yang sederhana saja. Al Qur’an adalah BENIH ILMU. Bahwa apapun ayatnya, kita akan selalu dibawa untuk MEYAKINI atau MENGIMANI ALLAH. Kalau tidak beriman kita akan hidup sengsara didalam alam kepedihan, atau sebaliknya kalau beriman kita akan hidup didalam alam kesukacitaan dan berkelimpahan.

Selanjutnya kita tinggal melaksanakan saja satu AMAL ke AMAL berikutnya sebagai tanda bahwa kita memang sudah beriman kepada Allah. Untuk mengetahui amal apa yang baik dan benar, ya… kita lihat saja amal seperti apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat Beliau dulu. Kita lihat beberapa Al Hadist saja dulu. Kita nggak perlu harus hafal ribuan hadist dulu untuk beramal itu. Sebab MUATAN Al Hadist itu juga sangat sederhana sekali kok. Al hadist itu memberi tahu kita bagaimana amal atau perbuatan Rasulullah untuk memupuk keimanan Beliau kepada Allah; bagaimana Beliau berbuat baik kepada sesama manusia sehingga orang-orang percaya bahwa Beliau memang adalah Rasulullah; bagaimana Beliau memperlakukan alam dengan santun; dan bagaimana cara-cara Beliau menyelesaikan berbagai problematika hidup dizaman Beliau dulu. Al Hadist itu sungguh hanya memuat hal-hal yang manusiawi sekali. Nah…, kita tingal lakukan saja hal-hal yang manusiawi itu SATU PERSATU sesuai dengan KEMAMPUAN kita dan ZAMAN kita sekarang.

Kalau kebanyakan kita kan nggak begitu, walau kita seringkali membaca Al Qur’an namun kita tidak sampai TERBAWA masuk ke wilayah IMAN dan YAKIN kepada ALLAH. Kita juga seringkali membahas Al Hadist sampai berjam-jam, namun kita nyaris tidak melakukan apa-apa untuk memperkaya peradaban dizaman kita. Kita ada dan hidup dizaman sekarang, namun kita seperti tiada. Kita seperti entah sedang berada dimana…

Demikianlah…, berbilang hari dan tahun berlalu. Satu persatu KEADAAN demi KEADAAN, SUASANA demi SUASANA yang mewakili AYAT PERAYAT didalam Al QUR’AN, seperti menyata. Misalnya, untuk sepotong ayat Al Qur’an tentang kata IMAN kepada ALLAH saja, yang dulunya saya sangka akan sangat begitu sulit untuk saya dapatkan dan pahami maknanya, ternyata memahami dan memaknai kata IMAN itu sama mudahnya dengan memahami dan memaknai kata KAFIR atau TIDAK IMAN.

Ya…, ternyata untuk BERIMAN dan TIDAK BERIMAN (KAFIR) kepada Allah itu sama mudahnya. Karena masing-masing kata itu punya KEADAANNYA sendiri-sendiri. IMAN punya KEADAANNYA sendiri dan KAFIR juga punya KEADAANNYA sendiri. Jadi untuk beriman atau tidak itu hanya dan hanya ada dua keadaan saja, yaitu KEADAAN IMAN dan KEADAAN KAFIR. Namun dua keadaan itu tidak akan pernah bisa bersatu sepanjang masa. Kitapun ternyata tidak bisa pula hidup dikedua keadaan itu sekaligus. Kita hanya bisa hidup dalam suasana kafir saja atau dalam suasana beriman saja pada waktu tertentu. Hanya satu saja pilihan kita dari dua keadaan itu pada suatu saat tertentu. Keadaan Beriman saja ATAU Keadaan Kafir saja.

Atau kalau didalam otak kita kata “kafir” itu sangat menakutkan dan sadis amat, kata itu bisa kita ganti dengan kata “tidak beriman”, atau “ragu-ragu”, atau “was-was”. Walaupun kata-kata itu berbeda, tapi keadaannya tetap SAMA, yaitu TIDAK YAKIN. Jadi tidak ada itu yang namanya separo iman dan separonya lagi was-was atau ragu-ragu. Kita tinggal nyemplung saja kedalam suasana IMAN atau masuk kedalam keadaan KAFIR (atau TIDAK YAKIN).

DERR…, tiba-tiba saja kita sudah nyemplung berada dalam keadaan IMAN kepada Allah yang sangat pekat dan penuh dengan rasa SUKACITA dan BERKELIMPHAN. Atau DESS…, tiba-tiba saja sudah tercebur kedalam keadaan KAFIR, TIDAK IMAN, RAGU-RAGU, WAS-WAS kepada Allah yang akibatnya adalah hidup dan kehidupan kita akan dipenuhi oleh rasa KEPEDIHAN dan KESEMPITAN.

Perbedaan antara keadaan Iman dan keadaan Kafir itu nyaris sama dengan perbedaan antara keadaan saat kita hidup didaratan yang penuh dengan udara segar dengan keadaan saat kita menyelam tanpa bantuan alat apa-apa didalam air. Saat kita berada didaratan, kita bisa dengan bebas dan nyaman menghirup nafas, hidup, berjalan, dan juga berkarya dengan sangat mudah dan leluasa. Akan tetapi saat kita berada didalam air tanpa bantuan alat apa-apa, kita bisa bertahan hidup dan berkarya hanya dalam hitungan detik atau menit saja. Dalam sejekap dua kejap kemudian kita akan megap-megap. Kita akan tersiksa…

Kalau batas antara udara dan air masih bisa kita lihat. Namun sayangnya antara keadaa IMAN dan keadaan KAFIR itu keduanya hanya dibatasi oleh selapis LABIRIN yang sangat tipis dan tidak kelihatan oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, dan tidak terwakili oleh kata dan aksara. Dan memang disinilah umumnya letak kekeliruan kita umat islam ini ketika kita ingin memahami tentang IMAN dan KAFIR ini. Yaitu kita ingin memahaminya melalui olah pikir, olah intelektual, olah mata, dan olah telinga. Artinya disini kita salah dalam memakai alat untuk mengolahnya, sehingga hasilnya juga tidak maksimal dan bahkan sering salah.

Padahal Al Qur’an paling tidak di lima ayat berikut ini sudah menyatakannya dengan sangat terang benderang:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya (SADRAHU, SUDUR, DADA) untuk (menerima) agama Islam lalu ia (DADA ITU) mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az Zumar 22).

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi petunjuk baginya. (Az Zumar 23).

Orang-orang Arab Badwi itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk patuh (aslamna)”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikitpun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al Hujuraat 56).

Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana, (Al Fath 4).

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, (al Anfaal 2)”

Muatan kelima ayat ini sebenarnya sangat sederhana sekali. Bahwa kita hanya tinggal bersedia menghadap kepada Allah dengan tepat dan lurus (hanif), lalu Allah sendiri yang akan membuka dan menyinari SUDUR (dada) saya sehingga dada kita menjadi lembut, lunak, dan cair. Dada yang seperti inilah yang akan mampu menangkap, dan menerima turunnya petunjuk dari Allah. Yaitu untuk menerima KEADAAN atau SUASANA yang sebenarnya dari perkataan-perkataan Allah, ilham-ilham Allah, yang dari dulu sampai sekarang dan masa datang yang tetap akan sama dan tidak berubah.

Keadaan Iman itu dari dulu ya begitu itu. Keadaan iman yang bisa ditangkap dan dimengerti oleh Rasul-Rasul Allah, para sahabat Nabi dulu, serta wali-wali Allah disetiap zaman, akan persis sama dengan keadaan iman yang bisa kita tangkap saat ini. Keadaan Kafir juga begitu. Keadaan kafir yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan tepat dan pas oleh Fir’aun, sama persis dengan yang bisa ditangkap dan dimengerti dengan akurat oleh Namrud, Abu Lahab, Abu Jahal, dan bahkan juga oleh kita-kita yang hidup saat ini. Tidak ada perbedaan sedikitpun.

Dan ternyata keadaan iman yang sebenarnya seperti yang dialami oleh Rasulullah ini tidak bisa dipaksa-paksakan. Kita hanya dan hanya bisa menerima KEADAAN IMAN itu DITURUNKAN oleh Allah sendiri kedalam dada kita. Keadaan Iman itu hanya bisa kita baca dengan DADA (SUDUR) kita. Karena memang alat penerimanya bukanlah panca indra kita yang bermuara pada olah otak kita semata. Alat penerima keadaan iman itu adalah berupa DADA yang lembut, lunak dan hidup. Bukan dada yang keras membatu, mati dan gelap.

Boleh jadi secara lahiriah kita bisa memaksa-maksa orang untuk beriman kepada Allah, dan dengan paksaan itu orang tersebut bisa pula melakukan setiap amalan yang diperintahkan oleh Allah dengan semangat yang tinggi. Akan tetapi kebenaran keadaan iman kita yang seperti ini dibantah sendiri oleh Allah didalam Al Qur’an dengan menyamakan keadaan iman orang tersebut sama dengan keadaan iman seorang badwi dizaman Rasulullah dulu. Bahwa kita sebenarnya belum beriman, tapi baru hanya sekedar patuh saja. Karena keadaan iman itu hanya bisa menyentuh hati kita.

Namun begitu, saat dada kita diberi cahaya oleh Allah, maka dada kita yang tadinya keras membatu dan gelap gulita akan berubah seketika, ya seketika…!. Dada kita berubah menjadi dada yang lembut, lunak, dan hidup. Dada orang beriman. Dada yang dilunakkan, dilembutkan, dihidupkan, dan disucikan sendiri oleh Allah dengan cara Dia menyinari dada kita dengan sinar-Nya.

Kenapa harus ada aktifitas Allah untuk mengubah keadaan dada kita ini?. Karena memang ada seribu satu cara-cara artificial (buatan) lainnya yang SEAKAN-AKAN dapat melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan dada kita ini. Misalnya kita seakan-akan merasa dada kita menjadi lembut dengan cara mendengarkan irama musik yang lembut dan mendayu-dayu, atau dengan mendengarkan gelombang suara dengan frekuensi tertentu, atau bisa juga dengan mengingat-ingat penderitaan orang lain, atau dengan cara memaksa-maksakan diri untuk menangis dan meratap. Jadi proses melunaknya hati kita itu tidak lebih dari hasil aktifitas olah pikir dan olah emosi kita saja. Bahkan bentuk dzikir-dzikir tertentu yang sering dilantunkan oleh umat islam, juga lebih mengarah kepada bentuk artificial seperti ini.

Dengan cara-cara artificial ini, untuk sejenak memang terasa dada kita seperti berubah menjadi lebih lembut dari biasanya. Kita bisa lebih mudah untuk menangis, kita lebih mudah tersentuh, kita lebih mudah terharu dari biasanya. Kitapun merasa lebih mudah untuk berbuat baik kepada orang lain. Kita seperti punya rasa sosial yang tinggi untuk membantu sesama. Semangat kita untuk bekerjapun jadi begitu membara. Ini sudah bagus sebenarnya. Namun sayang, keadaan itu hanya bisa bertahan untuk sementara waktu saja. Tidak berapa lama kemudian, suasana dada yang lembut tadi berubah kembali menjadi keras. Tanpa kita melakukan kembali proses olah pikir dan olah emosi seperti diatas, kita merasa tidak akan bisa mendapatkan kembali suasana hati kita yang lembut seperti tadinya.

Jadilah kita menjadi orang yang terikat kuat dengan semua alat bantu olah pikir dan olah emosi itu tadi dalam mengolah keadaan dada kita. Tanpa alat itu rasanya kita tidak akan bisa membuat suasana dada kita menjadi lembut, lunak dan hidup. Ini kan bentuk perantara atau avatar juga namanya. Cuma saja avatarnya adalah benda-benda dan suara-suara.

Celakanya lagi, otak kita ini tidak pernah bisa menerima keadaan yang sama untuk kedua kalinya. Otak kita diciptakan Allah untuk bereaksi lebih sedikit dan lebih sedikit lagi saat kita melakukan hal sama secara berulangkali. Suasana pertama yang kita rasakan adalah munculnya Rasa BOSAN kita terhadap keadaan yang kita alami atau lakukan itu. Kita seperti merasa iman kita menjadi TURUN. Rasanya menjadi GARING. Tanda-tandanya sederhana saja, yaitu kita menjadi malas beribadah dengan khusyu kepada Allah. Walaupun ibadah itu masih kita lakukan, namun tidak ada KESUKACITAAN didalamnya. Kita beraktifitas ditengah-tengah KEPEDIHAN yang mendalam tanpa kita mampu untuk menyadarinya.

Kadang-kadang untuk menaikan rasa iman kita kembali, kita membutuhkan usaha yang lebih keras dari biasanya. Atau bisa pula rasa iman kita itu baru bisa bertambah kembali saat Allah menimpakan sebuah beban yang berat dipundak kita. Artinya saat itu kita dipaksa beriman oleh Allah dengan cara yang menyakitkan sekali. Setelah itu barulah kita merasa beriman kembali kepada Allah untuk kemudian melemah lagi. Kita merasa iman kita turun-naik begitu cepatnya. Iman kita seperti selalu berubah-ubah setiap saat. Tergantung mood kita katanya.

Sayangnya kita salah persepsi memaknai hadist Rasulullah yang menyatakan bahwa iman kita ini bisa bertambah dan berkurang. Hadist itu begitu seringnya diberitahu oleh para da’i dan khatib kepada kita sehingga kitapun masih bisa tersenyum sumringah saat mana dada kita begitu garingnya ketika kita melakukan aktifitas keseharian kita. Dalam beraktifitas, kita seperti berenang didalam lautan yang isinya hanyalah KEPEDIHAN belaka, dan anehnya kita masih bisa tersenyum menjalaninya. Kita dengan bangga mengatakan bahwa iman kita saat itu sedang TURUN. Kita menyangka bahwa keadaan kita yang seperti itu dibenarkan oleh Rasulullah. Iman kita sedang turun. Dan kita tetap berlaku biasa-biasa saja.

Alhamdulillah, sekarang saya dipahamkan Allah bahwa keadaan bertambah dan berkurangnya iman kita seperti yang dikatakan oleh Rasulullah itu hanya berlaku bagi orang yang mendapatkan rasa iman itu melalui cara-cara yang artificial seperti diatas. Cara-cara olah otak dan olah emosi belaka. Karena, seperti yang telah diterangkan diatas, otak kita ini memang punya karakter mudah BOSAN. Kalau tidak ada keadaan dan suasana baru yang masuk kedalam otak kita, maka otak kita akan TIDAK bereaksi lagi. Kita akan merasa bosan dengan aktifitas keberagamaan kita. Kita seakan-akan merasa iman kita berkurang. Sebenarnya yang terjadi adalah, karena otak kita tidak lagi mendapatkan suplai suasana dan keadaan baru, maka emosi kita juga tidak mendapatkan makanan barunya. Emosi kita, semangat kita dalam beragama, juga menjadi lemah, sehingga kita merasa iman kita sedang turun.

Padahal yang turun itu adalah emosi kita saja. Sedangkan iman yang sebenarnya belum kita dapatkan. Yang kita dapatkan barulah pengetahuan tentang iman. Dan pengetahuan iman kita itu akan ikut pergerakan turun naiknya suasana emosi kita. Saat emosi kita naik akibat sebuah stimulan, atau dipaksa, atau ditakut-takuti, kita juga merasa seakan-akan iman kita bisa ikut naik. Sebaliknya saat emosi kita turun, karena stimulannya sudah tidak kuat, atau kita sudah tidak mempan lagi untuk dipaksa-paksa dan ditakut-takuti, maka kita merasa iman kita ikut pula turun. Sesuai sekali dengan hadist Nabi yang mengabarkan suasana iman yang bisa turun naik itu. Iman yang artificial.

Karena iman ang sebenarnya baru bisa kita dapatkan dengan cara-cara yang bukan melalui olah otak dan bukan pula olah emosi. Tapi melalui cara dimana Allah sendiri yang menurunkan iman itu kedalam dada kita. DERR… Utuh iman itu kita dapatkan…

Saat kita mendapatkan rasa iman kepada Allah itu dengan cara Allah sendiri yang menaroknya kedalam dada kita, maka hasilnya sungguh sangat berbeda. Setiap kita membaca nama Allah dan ayat-ayat Allah yang sedang menyata dihadapan kita, maka iman kita kepada Allah PASTILAH akan selalu bertambah dan bertambah (lihat Al Anfaal ayat 2 diatas). Saat kita ditimpa oleh musibah ataupun nikmat apapun juga, rasa iman kita itu tetap kental dan kuat. Malah saat ditimpa musibah ataupun nikmat itulah kita punya fasilitas untuk segera berlari kepada Allah, menyungkur dihadapan Allah. Keadaan yang merupakan realitas dari kalimat “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”. Saat itu kita tinggal datang dan berlari kehadapan Allah untuk kemudian Allah menambah rasa iman kita kepada-Nya.

Ketika iman kita tidak bertambah dan bertambah, mbok ya… kita sadari sendirilah posisi kita. Bahwa saat itu kita sebenarnya tengah TIDAK beriman kepada Allah. Bukan malah dengan tenang mengambil kesimpulan sendiri bahwa saat itu iman kita sedang turun. Bukan…!. Tidak beriman kok ngaku-ngaku imannya sedang turun. Keterlaluan sekali memang kita ini dalam memaafkan ketidakberimanan kita.

Tatkala Allah sendiri yang melunakkan, melembutkan, dan menghidupkan dada kita, maka kita seperti ditarok oleh Allah kedalam sebuah keadaan atau suasana yang disebut sebagai KEADAAN BERIMAN kepada Allah. Rasa nikmat beriman kepada Allah. Dan keadaan itu akan bertahan dalam waktu yang lama. Malah setiap aktifitas kita berikutnya, seperti shalat, puasa, sedekah, dan sebagainya, akan menambah pekat keadaan iman kita itu. Iman kita kepada Allah akan bertambah dan bertambah setiap waktu.

Jika tidak bertambah, artinya saat beraktifitas kita mulai rada-rada merasa GARING, tidak ada rasanya, hambar, maka dengan segera kita duduk bersimpuh dihadapan Allah untuk minta ampun: “Ya Allah…, salah hamba apa ya Allah. Ya Allah…, kenapa hamba tidak direspon ya Allah. Mohonlah hamba kembali disapa ya Allah, nggak nyaman ni ya Allah…!. Karena pada hakekatnya saat itu kita tengah tidak beriman kepada Allah, sehingga Allah mencabut rasa nikmatnya iman dari dalam dada kita. Bukan cengar cengir seperti keledai seperti yang sering kita lakukan selama ini.

Sebagai seorang yang beriman, tatkala dada kita garing, sebagai pertanda awal lunturnya iman kita kepada Allah, kita akan shalat dua raka’at, kita akan beristigfar, lalu kita kemudian duduk dengan diam, merendah, sampai Allah kembali merespon dan menyapa kita. Duduk diam berapa lama?. Ya tergantung Allah saja. Kita bisa duduk diam dan merendah terus kepada Allah itu hanya dalam hitungan menit, atau bisa pula dalam hitungan jam-jaman. Bahkan bisa pula kita dipaksa untuk mengusung sikap itu seharian bahkan bisa bulanan atau tahunan. Kita bisa berjalan dalam keseharian kita dengan ungkapan penuh penyesalan dan permintaan ampun.

Suasana penantian ini digambarkan oleh ayat Allah berikut ini: “rabbana zalamna anfusana wa illam taghfirlana watarhana lanakunanna minal khaasirin…! Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”, (Al A’raaf 23). Yang kita tunggu adalah jawaban Allah yang menghujam kuat kedalam DADA kita: “Ya sudah…!, bangunlah wahai hamba-Ku…!”. DERR…, sungguh sukacita sekali keadaan kita saat itu….

Jika kita sudah mendapatkan iman itu melalui proses DERR…, setelah itu, dengan sangat mencengangkan, apa-apa yang dulu kita rasakan sulit ketika kita ingin menjalankan aktifitas beragama, berubah menjadi mudah. Kita juga jadi semakin kuat terikat dengan Allah. Antara kita dengan Allah seperti ada KABEL (HAB, HUB) yang terhubung dengan kuat. Ada rasa sambung yang hebat di dalam dada kita dengan Allah. Bicara kita apa-apa tentang Allah…, sedikit sedikit tentang Allah…, sebentar-sebentar tentang Allah, bukan tentang guru kita, bukan tentang syeikh kita, bukan tentang aliran kita, bukan tentang kelompok kita. Keyakinan kita akan Kerasulan Nabi Muhammad juga akan iktu menguat. Al Qur’an menyebutkan keadaan kita seperti ini sebagai keadaan orang yang bergantung kuat dengan Allah. Keadaan dimana ada KABEL atau TALI ALLAH yang ditancapkan oleh Allah kedalam dada kita. Wa’tashimu billah…, wa’tashimu biHABlillah… berpegang teguhlah kepada kabel dari Allah…

Demikianlah…, sederhana sekali sebenarnya al Qur’an itu. Dan yang terpenting sebenarnya adalah Setelah iman itu apa?. Kan ini sebenarnya yang lebih punya makna….

Sekedar Cerita Lama…

Masih segar dalam ingatan saya ditahun delapan puluhan, saat pertama kali saya memiliki buku-buku tasawuf, seperti Ar-Risalatul Qusyairiyah, dan Al Hikam, saya bersemangat sekali untuk mencoba mempraktekkan satu persatu tahapan-tahapan (maqam) para penempuh jalan sufi yang ada dibuku-buku tersebut. Misalnya didalam kitab Ar Risalatul Qusyairiah saja, sedikitnya ada 49 tahapan yang harus dijalankan oleh seorang penempuh jalan spiritual. Ada tahapan Taubat, Mujahadah, Khalwat, Taqwa, Wara’, Zuhud, Diam, Khauf, Raja’…, Ma’rifat, Cinta, Rindu, Menjaga hati Syech, dan Sima’. Belum lagi berbagai terminologi tasawuf yang sangat-sangat tidak mudah untuk dimengerti dengan olah pikir saya saat itu, seperti Waktu, Maqam, Qabdh dan Basth…, Warid…, Sirr. Satu kata saja didalam Al Hikam, yaitu “istirahatkanlah dirimu/pikiranmu daripada kerisauan mengatur kebutuhan dunia…, tidak pernah bisa saya lakukan walau sudah dibantu pula dengan meditasi-meditasi ala sebuah perguruan silat ternama di tanah air.

Baru ditahapan pertama saja, yaitu masalah TAUBAT, saya malah dihinggap rasa stress yang amat sangat ketika saya mencoba mengingat-ngingat dosa-dosa yang telah saya lakukan dimasa lalu. Apalagi kemudian saya juga membaca sebuah buku khusus setebal 272 halaman, yang membahas hanya masalah Taubat itu. Setelah itu ditambah lagi dengan berbagai bacaan dari Buku Madarijus Salikin, Minhajul Qashidin, Kimyatus-Saadah, dan puncaknya adalah buku “Sinar Keemasan” yang saya praktekkan dalam sebuah tarekat. Bahkan tidak ketinggalan pula untuk sekian tahun lamanya, saya terjun kedalam berbagai pengajian, diskusi, liqa, dan aktifitas lainnya.

Rasanya lengkap sudah jalan panjang yang saya lewati. Semua itu hanya untuk menemukan makna hakiki dari sepenggal kata yang sangat sederhana, yaitu IMAN. Namun hasilnya…?. Ampuuuun…mak, kepala saya rasanya mau pecah. Iman itu apaan sih…?

Ya…, sebenarnya keinginan saya sederhana saja. Saya hanya ingin untuk beriman kepada Allah. Namun dengan semua aktifitas menelusuri jejak iman itu melalui buku-buku yang ada, dan bahkan dengan langsung menceburkan diri ke sebuah tarekat, malah KEADAAN IMAN itu gagal saya raih. Semua ILMU dan AKTIFITAS itu tadi malah seperti MENGHIJAB saya dari KEADAAN atau SUASANA IMAN yang sesungguhnya.

Tanda-tanda kegagalan iman saya itu mudah sekali untuk dibuktikan. Yaitu betapa lancarnya saya protes kepada Allah atas kejadian dan peristiwa yang menurut saya itu tidak menguntungkan saya. Hampir setiap hari saya mengucapkan kata-kata (walau hanya sekedar didalam otak saya):

“Kok begini ya Allah, mbok ya jangan begitu?”.

“Ya Allah…, saya nggak kuat kalau begini, yang lebih baik sajalah buat saya..!”.

“Ya Allah saya ingin yang itu…, bukan yang ini…?”.

Dan dengan manis saya bungkus kalimat-kalimat protes saya kepada Allah itu dalam bentuk do’a-do’a baik dalam bahasa Arab maupun dalam bahasa Indonesia. Saya berdo’a dengan lancar, tekun dan panjang, tapi hakekatnya pada saat itu saya sedang protes berat kepada Allah atas apa-apa yang saya alami. Saya sedang protes atas QADA dan QADAR Allah, atas AF’AL Allah yang sampai kepada saya. Namun pada saat yang sama saya masih berani-beraninya berkata bahwa saya telah beriman kepada Allah. Ah…, betapa bohongnya saya kepada Allah waktu itu.

Malaikat juga pernah berbohong seperti ini, saat dia berkata kepada Allah: Ataj `alu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfikuddimaak wanahnu nusabbihu bihamdika wanukaddisulak…, …Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?…”. Namun atas rahmat Allah, Malaikat kemudian bisa memahami AF’AL Allah yang sedang bekerja membentuk Adam, sehingga akhirnya Malaikat tahu diri dan tidak meneruskan protesnya untuk sepanjang masa.

Akan tetapi ada yang tidak pernah sadar sepanjang masa, yaitu IBLIS. Dia selalu saja protes atas QADA dan QADAR Allah atas penciptaan ADAM. Iblis seakan bersikukuh:

“Ya Allah…, saya BERIMAN kepada Wujud-Mu”.

“Ya Allah…, saya BERIMAN kepada Zat-Mu”.

“Tapi ya Allah…, saya PROTES atas AF’AL-Mu terhadap adanya ADAM”.

“Tapi ya Allah…, saya PROTES atas QADA dan QADAR-Mu terhadap adanya ADAM.”

“Aku kan lebih hebat dari Adam…”,

“Aku dari api sedang Adam dari tanah…”

“Seharusnya Adamlah yang sujud kepadaku…”

Ternyata bukti Iman kepada Allah adalah berupa bisanya kita menerima Qada-Qadar Allah ini dengan ikhlas. Hal ini adalah sebuah aktifitas yang sangat SULIT untuk kita laksanakan kalau kita hanya berbekal kepada ilmu OLAH PIKIR dan OLAH EMOSI belaka. Dengan bekal seperti ini, kita tidak akan pernah bisa beriman kepada Allah dengan utuh. Seperti tidak bisanya Iblis saat dia menggunakan olah pikir dan olah emosinya untuk menerima kenyataan tentang adanya ADAM. Bahwa dia pikir dia yang terbuat dari API lebih baik dari ADAM yang tercipta dari TANAH.

Astagfirullahal azhiim…, sejak dulu entah berapa lama saya pernah terjebak dalam keadaan protes terus menerus kepada Allah seperti yang dilakukan iblis kepada Allah. Ah…!, beriman kok masih ada tapinya…!.

Dulu Iblis hanya protes untuk satu hal saja, yaitu protes atas Af’al Allah terhadap penciptaan Adam. Sedangkan saya, dan mungkin juga beberapa orang diantara pembaca yang budiman, mungkin pernah protes…, protes…, protes…, dan menolak seribu satu keadaan dan Af’al Allah yang menjambangi saya. Protes itu saya bungkus dalam bentuk untaian do’a-do’a yang sekilas kelihatannya indah dan manis, tapi hakekatnya itu tetaplah sebuah bentuk protes kepada Allah. Lalu masihkah saya bisa mengaku bahwa iman saya kepada Allah lebih baik dari iman Iblis kepada Allah???.

Astagfirullahal azhiim…, Astagfirullahal azhiim…, Astagfirullahal azhiim……

BENIH IMAN…

Alhamdulillah…, berbekal dengan lima ayat Al Qur’an diatas, yang merupakan “peta yang sangat akurat” untuk mendapatkan pencerahan dari Allah, terjadi sebuah proses transformasi spiritual radikal didalam diri saya. Melalui proses yang sangat sederhana, tiba-tiba saja DERR… (lihat artikel Bersatu). Proses itu begitu sederhananya dan dalam tempo yang sangat singkat pula. Walaupun begitu suasana atau keadaan dari hasil latihan itu bisa bertahan berhari-hari.

Tiba-tiba saja ditahun 2000, saya ditunjukkan oleh Bapak H. Slamet Utomo dan Ustadz Abu Sangkan sebuah ruangan dimana Beliau berdua selalu berada di setiap saat. Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Syahadat, dan shalawat, lalu saya memanggil-manggil Allah dengan lembut dan santun, ya Allah…, ya Rahman… berkali-kali, tiba-tiba saja saya seperti dituntun, ditarik, diperjalankan, dibimbing dan diletakkan dengan sengaja oleh Allah kedalam sebuah KEADAAN, SEBUAH RUANG yang secara sederhana saya sebut sebagai RUANG SPIRITUAL.

Keadaan Ruang Spiritual itu tidak bisa saya gambarkan, karena memang didalamnya tidak ada apa-apa. Tidak ada bentuk, rupa, warna dan cahaya yang bisa saya lukiskan. Karena gambar memang hanyalah permainan bentuk, rupa, warna dan cahaya semata. Garis setipis serambut dibelah tujuh, atau titik, atau atom, atau inti atom yang terdiri dari berbagai eletron, proton, quark, dan sebagainya, walaupun itu sangat-sangatlah kecil, tapi semua itu masih bisa digambarkan. Kalau ini tidak bisa. Tiba-tiba saja mata saya, walaupun masih tetap terbuka, dan semua bentuk, rupa, dan benda-benda masih ada didepan saya, tidak lagi terhalang (terikat) sedikitpun oleh kesemuanya itu. Mata saya seperti terbebas dari bebannya yang sangat berat selama ini. Mata saya seperti menemukan tempat istirahatnya dan tempat bersandarnya yang Hakiki. KOSONG, Tidak ada apa-apa.

Didalam ruang spiritual itu yang ada hanyalah KESENYAPAN, KEHENINGAN. Tidak ada gelombang, tidak ada getaran, tidak ada bebunyian, tidak ada nada dan irama, tidak ada kata-kata dan kalimat-kalimat. Entah bagaimana caranya, ditengah-tengah badai gelombang, getaran, bebunyian, nada dan irama, kata dan kalimat, yang tengah melewati telinga saya, tiba-tiba semua itu seperti diliputi kesenyapan, dan keheningan. Ada kesunyian yang mencekam. Segala riuh rendah bebunyian dan kata yang selama ini memenatkan telinga saya, ternyata tak lebih hanyalah sebentuk permainan yang tengah berenang dalam liputan kesenyapan, kesunyian, dan keheningan. Setelah sekian puluh tahun menanggun beban yang meletihkan, telinga saya seperti kembali mendapatkan alamat istirahatnya dan tempat kembalinya yang Hakiki. SENYAP.

Ya…

Yang ada hanyalah KEKOSONGAN, TIDAK ADA APA-APA.

Yang ada hanyalah KEHENINGAN, KESENYAPAN, TIDAK ADA APA-APA

Yang ada hanya DIAM…, SUNYI…, TIDAK ADA APA-APA.

Yang ada hanya SUASANA KEABADIAN.

Yang ada hanya SUASANA KELANGGENGAN.

Dan yang terpenting sebenarnya bukanlah ruangan spiritual itu sendiri. Tapi suasana, proses, dan aktifitas diruangan spiritual itulah yang mencengangkan.

Bagaimana proses tahu terjadi.

Bagaimana proses tahu berubah menjadi rasa ingin.

Bagaimana proses mengalirnya daya untuk mewujudkan rasa ingin itu.

Bagaimana proses turunnya suasana yang mengiringi pelaksanaan sebuah aktifitas.

Misalnya,

Tidak semua orang diberi tahu tentang ada proses rukuk yang menyembah dan mendekat ke Allah…

Tidak semua orang diberi tahu tentang proses sujud yang menyembah an mendekat ke Allah…

Tidak semua orang diberi rasa ingin untuk rukuk yang menyembah dan mendekat ke Allah…

Tidak semua orang diberi rasa ingin untuk sujud yang menyembah dan mendekat ke Allah…

Tidak semua orang diberi daya untuk rukuk yang menyembah dan mendekat ke Allah…

Tidak semua orang diberi daya untuk sujud yang menyembah dan mendekat ke Allah…

Tidak semua orang diberi suasana menyembah dan mendekat ke Allah saat rukuk…

Tidak semua orang diberi suasana menyembah dan mendekat ke Allah saat sujud…

Sungguh rukuk, sujud, menyembah, dan mendekat kepada Allah inilah puncak kerendahan hati manusia dihadapan Sang Penciptanya.

Sebab banyak diantara kita yang sudah diberi tahu bahwa ada perbuatan dan aktifitas yang baik bagi sesama umat manusia dan bagi diri kita sendiri, kemudian dialiri rasa ingin untuk berbuat dan berkatifitas yang baik itu, lalu sudah didorong pula dengan daya untuk beraktifitas untuk mewujudkan perbuatan baik itu, diberi suasana pula saat kita melakukan aktifitas kebaikan itu, namun kita DIHALANGI oleh Allah untuk bisa rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya…

Banyak sekali kita yang tidak tahu bahwa sebaik apapun perbuatan kita, secemerlang apapun karya kita, namun saat kita DIHALANGI oleh Allah untuk rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya, sebenarnya saat itu kita sedang tidak disukai oleh Allah. Saat itu sebenarnya kita sedang DITENDANG oleh Allah dari sisi-Nya. Saat itu kita sedang DIUSIR oleh Allah dari sisi-Nya.

“Pergi kau dari sisi-Ku wahai sang pengkhianat…!.”

“Menjauh kau dari sisi-Ku wahai sang pengkhianat…!.”

Dan semua orang yang dihalangi, ditendang, dan diusir oleh Allah dari sisi-Nya itu tidak lain hanyalah AYAT-AYAT Allah belaka bagi hamba-hamba Allah yang lain. Saat itu Allah sebenarnya sedang berkata-kata kepada hamba-Nya yang sudah DITUNTUN-Nya untuk bisa rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya…

“Lihatlah wahai hamba-Ku…

Si Fulan itu telah berkhianat kepada-Ku…

Ku-beri dia rasa hidup, tapi dia sombong kepada-Ku…

Ku-beri dia rasa ada, tapi dia sombong kepada-Ku…

Ku-beri dia rasa melihat, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kuberi dia rasa mendengar, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kuberi dia rasa tahu, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kuberi dia rasa ingin, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kuberi dia rasa berdaya, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kuberi dia rasa kuat, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kuberi dia rasa bisa, tapi dia sombong kepada-Ku…

Kadangkala Ku-tinggikan derajatnya agar dia tetap sombong kepada-Ku…

Sehingga diapun Ku-buat lupa kepada-Ku…

Dia tidak Ku-izinkan bergantung kepada-Ku…

Dia tidak Ku-izinkan untuk rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Ku…

Namun …

Untuk kebaikannya…

Aku masih berkenan mengingatkannya…

Ku-beri dia rasa sakit, agar rasa sombongnya bisa copot…

Ku-beri dia rasa tersiksa, agar rasa sombongnya bisa copot…

Ku-beri dia rasa takut kelaparan, agar rasa sombongnya bisa copot…

Ku-beri dia rasa khawatir akan masa depannya, agar rasa sombongnya bisa copot…

Kadangkala…

Ku-rendahkan derajatnya serendah-rendahnya, agar rasa sombongnya bisa copot…

Ku-ambil apa-apa yang dicintainya, agar dia kembali bergantung kepada-Ku…

Ku-singkirkan tempat bergantungnya selain-Ku, agar dia bisa kembali bergantung kepada-Ku saja…

Fabiayyi ala irabbikuma tukazzibaan…

Entah dengan cara apa lagi dia bisa Ku-ingatkan…

Akan tetapi…

Jika dengan semua peringatan-Ku itu dia masih tetap mengkhianati-Ku…

Aku masih punya peringatan-Ku yang terakhir…

Akan Ku-ambil semua apa-apa yang Ku-berikan kepadanya selama ini.

Karena semuanya memang adalah Milik-Ku…

Rasa melihatnya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa mendengarnya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa tahunya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa inginnya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa berdayanya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa kuatnya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa bisanya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa hidupnya Ku-ambil dengan paksa…

Rasa adanya Ku-ambil dengan paksa…

Mati…

Untuk memudahkan kita dalam memahami proses perubahan spiritual yang lebih dahsyat lagi, tidak ada salahnya kalau kita menengok sejenak proses perubahan spiritual yang sangat-sangat radikal yang dialami oleh Ibu Siti Hajar. Tentu saja kualitas Perubahan Spiritual yang dialami oleh Ibu Siti Hajar ini sangat-sangat jauh sekali diatas proses yang saya terangkan diatas.

Sejenak, cobalah bandingkan peristiwa yang Beliau alami dengan apa-apa yang kita alami. Sebenarnya apa yang kita alami dalam hidup kita sekarang ini belum ada seujung kukupun atas kejadian yang Beliau hadapi.

Perbedaan yang sangat menyolok antara Ibu Situ Hajar dengan kita adalah:

• Beliau memang sedang dipersiapkan Allah untuk menjadi seorang ibu dan seorang istri bagi orang-orang yang nantinya akan menjadi tonggak ketauhidan umat manusia sepanjang masa. Yaitu ibu bagi Nabi Ismail dan istri bagi Nabi Ibrahim. Untuk itu Allah sengaja membentuk karakter spiritual Beliau dengan cara yang sangat-sangat extrim, sehingga mau tidak mau akhirnya Beliau hanya punya tempat bergantung tunggal, yaitu kepada Allah.

• Sedangkan yang kita saat ini alami lebih banyak hanyalah jeweran atau sentilan Allah belaka untuk menyadarkan kita atas kesombongan dan pengkhianatan kita kepada Allah. Seberat apapun cobaan, hukuman, dan siksaan yang kita hadapi saat ini, sebenarnya kualitasnya hanyalah sekelar jeweran saja dibandingkan dengan apa yang dialami oleh Ibu Siti Hajar. Namun itu sajapun kita tidak kuat menghadapinya. Makanya kualitas kita juga jadi biasa-biasa saja di zaman kita sekarang. Sehingga kitapun tidak bisa melepas rasa kebergantungan kita kebanyak tempat bergantung selain Allah. Kualitas bergantung total kita kepada Allah menjadi begitu rendahnya.

Proses perubahan spiritual Ibu Siti Hajar itu terjadi saat Beliau ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim ditengah-tengah lembah (BAKKAH) bersama anak Beliau Nabi Ismail. Saat itu Bakkah yang sekarang dikenal sebagai Mekkah tidak lebih dari hanya sebuah tempat kosong yang sangat mengerikan. Ditengah kegarangan padang pasir yang panasnya memanggang bebatuan, Beliau bersama bayinya, Ismail, ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim. Tidak ada rimbun tetumbuhan tempat berteduh. Tidak ada setetes airpun untuk meredakan rasa dahaga. Tidak ada sebiji bebuahan yang bisa dijadikan pengganjal perut yang melilit lapar. Tidak ada hewan jinak yang bisa dijadikan makanan. Lapar dan dahaga menjadi begitu pasti dihari esok. Dan itu menumbuhkan rasa takut yang amat sangat…!. Takut akan lapar dan haus diesok hari.

Dinginnya udara malam seperti memeluk tulang. Cahaya bulan yang terhambat oleh gerombolan awan hitam seperti membentuk bayangan menakutkan. Entah binatang buas padang pasir macam apa yang tengah mengintai Beliau dari balik bebatuan. Suasananya begitu menakutkan.

Dalam pagutan rasa takut yang amat sangat itu, tidak ada apa-apa yang bisa Beliau jadikan tempat berpegangan. Suami yang selama ini jadi tempatnya bersandarpun telah meninggalkannya dengan langkah pasti. Yang ada hanyalah kesendirian yang ganjil. Kesendirian yang menakutkan. Kesendirian yang tak mampu lagi otak Beliau untuk memikirkannya. Otak Beliau akhirnya berhenti berfikir, karena tidak ada lagi logika berfikir yang bisa Beliau pakai…

Beliau TIDAK melalui tahapan tidak berfikir itu melalui cara-cara olah pikir seperti yang sering dilakukan oleh orang yang bermeditasi yang dinamakan orang sebagai ZERO MIND. Peristiwa yang Beliau alami bukanlah proses Zero Mind dengan cara meninggalkan alam pikiran tentang nikmat kehidupan. Sebab zero mind adalah proses yang berasal dari praktek yang dilakukan oleh pemimpin ibadah agama tertentu. Mereka melepaskan diri dari pikiran-pikiran tentang istri dan keluarga, tentang kepemilikan harta, tentang pengetahuan, tentang tentang kenikmatan hidup. Semua itu mereka angap sebagai penghambat diri mereka untuk mendapatkan ketenangan pikiran dan hati. Agar pikiran dan hati mereka tenang, maka semua pikiran tentang kenikmatan hidup itu harus disingkirkan sehingga dengan otomatis hati merekapun akan kosong pula. Akhirnya mereka hidup dengan cara meninggalkan keduniaan. Mereka hidup dalam keprihatinan yang kental.

Namun entah karena ketidaktahuan mereka atau hanya sekedar ikut-ikutan, banyak pula umat islam yang memakai cara-cara Zero Mind ini dalam dalam berbagai pelatihan. Walau ditambahkan dengan berbagai ayat-ayat Al Qur’an dan Al Hadist sebanyak apapun, hasilnya tetaplah biasa-biasa saja.

Kalau Siti Hajar kan tidak begitu. Tidak dengan cara-cara olah pikir. Saat anak Beliau, Ismail, menangis menahan rasa haus dan lapar, Siti Hajar tambah merasa tidak bisa berbuat apa-apa. Beliau kemudian berlari kecil menuju bukit safa dan kemudian ke bukit marwa untuk melihat kalau-kalau ada air yang bisa diambil untuk anak Beliau yang tengah kelaparan dan kehausan. Tujuh kali putaran Beliau melakukan itu, akhirnya habislah harapan Beliau untuk mendapatkan bantuan dari alam semesta sekalipun. Alam tidak pernah memperlihatkan wajah bersahabatnya kepada Beliau. Sungguh tidak ada siapa-siapa tempat bergantung Beliau. Tidak ada apa-apa lagi yang bisa Beliau akui sebagai yang bisa membantu Beliau. Tidak ada juga yang bisa diakui sebagai milik Beliau. Habislah segala daya dan upaya Beliau… Habis…

Dengan begitu, lengkap sudah prasyarat bagi Siti Hajar untuk bermetamorfosis menjadi makhluk spiritual. Tidak ada tempat bergantung lagi. Tidak ada apa-apa dan siapapun juga. Tidak juga pada kemurahan alam semesta. Tidak ada lagi yang bisa Beliau pikirkan. Diam…

Dalam kelelahan yang amat sangat, Beliau duduk dengan tulang-tulang yang luruh. Beliau pandang sang Ismail kecil yang sedang tertidur berbalut lapar dan haus. Nafas halusnya beralun lembut keluar dan masuk kedalam paru-parunya. Ismail sedikitpun tidak berbuat apa-apa, namun ternyata ada Wujud yang sedang sibuk memberi nafas kepadanya. Wujud yang sedang sibuk memberikan kehidupan kepada Ismail kecil. Yaitu Sang Hidup…

Siti Hajar kemudian mengamati pula nafas yang sedang bergerak halus keluar masuk paru-paru Beliau. Sebentuk benih kesadaran mengalir kedalam dada Beliau. Bahwa nafas Ismail maupun nafas Beliau dipegang oleh Wujud yang sama. Wujud Sang Hidup….!. Beliau mencoba untuk mengikuti aliran nafas itu buat sejenak. Walau paru-paru Beliau punya keterbatasan dalam menampung volume udara yang mengalir kedalam paru-paru itu, namun daya yang menggerakkan Nafas itu seperti mampu bergerak melampaui batas dinding paru-paru Beliau untuk terus bergerak memenuhi alam semesta raya.

Beliau telah menemukan muara dari nafas. Beliau telah menemukan rumah dari nafas, yang tak lain adalah alam semesta raya… Rumah Nafas…

Kosong, Senyap, Hening…, sebuah keadaan KEABADIAN menyergap Beliau. Ada sebuah suasana KELANGGENGAN yang tidak pernah berubah sepanjang Masa. Dari awal tidak ketemu Awalnya, Menuju akhir tidak ketemu Akhirnya. Beliau seperti lepas dari JERATAN WAKTU. Beliau lepas baik dari MASA LALU maupun dari MASA DEPAN. Seketika itu juga Beliau berada di SAAT INI. Beliau seperti COPOT dari SERGAPAN KEJADIAN-KEJADIAN. Beliau lepas dari jerat penderitaan, lepas dari jerat kepedihan. Beliau menjadi Bebas dan Merdeka.

Karena Beliau sudah dibekali oleh Nabi Ibrahim dengan sebuah nama dari Dzat yang Maha Meliputi Segala sesuatu, yaitu Allah…!, maka dengan santun Beliau lalu berpegangan dengan teguh kepada Wujud Sang Maha Meliputi. Sang Tunggal…, Sang Ahad…, Sang Satu…, Allah…

DERR…. Beliaupun duduk dengan Pas di suasana surat Al Ikhlash ayat 1-2:

Qulhuwallahu AHAD…

Allahush shamad…

Ooo…, Ada Sang Ahad…,

Beliau bersandar pada Wujud Ahad Yang Maha Meliputi…, DERR…

Dan Beliaupun bergantung pada Wujud Sang Ahad… DERR..

Ada tali yang menghubungkan dada Beliau dengan Wujud Yang Maha Meliputi…

Ada kable yang menghubungkan dada Beliau dengan Wujud Sang Ahad…

Lalu Beliau berpegangan teguh dengan tali itu, dengan kabel itu…, dengan hub itu…

Wa’tashimu billah…

Wa’tashimu bihablillah….

DERR…, Beliaupun menyampaikan sembah dan penghormatan kepada Sang Ahad, Sang Wujud Maha Meliputi, Sang Muhith…, sehingga Beliaupun dituntun untuk duduk di keadaan ayat 3-4 surat Al Quraisy:

Falya’buduu rabba haadzal baiti…,

Alladzi ath’amahum min ju’in wa amanahum min khauf…

Beliau menghaturkan sembah dan sujud kepada Dzat yang memiliki “rumah ini”. DERR…

Dan…, dengan seketika dari tanah yang Beliau injakpun memancarlah air dengan deras. Air yang bukan sembarang air. Tapi air yang mampu melepaskan rasa lapar dan dahaga. Air yang mampu menggantikan peran makanan, daging, dan buah-buahan. Sehingga Beliau dan anak Beliau, Ismail, pun bisa hidup berhari-hari, berbulan-bulan, dengan hanya berbekal air itu. Seluruh mineral dan zat-zat yang dibutuhkan oleh tubuh untuk hidup sudah tersedia didalam air itu. Air itu adalah air zam-zam. Air yang kualitasnya setara dengan air INFUS…, bahkan lebih.

Dengan seketika Beliau keluar dari keadaan JU’ (kelaparan). Beliaupun merasa aman, karena Ada Wujud Sang Maha Meliputi tempat Beliau bersandar dan bergantung disetiap saat. Tidak ada lagi rasa takut (KHAUF) pada diri Beliau, walau Beliau hanya berdua dengan anak Beliau di padang pasir tandus tersebut…

Dan Beliaupun mengecap suasana atau dari keadaan ayat berikut ini dengan tepat:

Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (Ath Thalaaq 3).

Subhanallah…, Subhanallah…, Subhanallah…!.

Kemudian dengan adanya air zam-zam itu, Allah menumbuhkan berbagai tumbuhan, sehingga Bakkah itupun berubah menjadi tempat persinggahan bagi kafilah-kafilah dari berbagai penjuru Jazirah Arab. Sejak itu, sebuah cikal bakal peradaban tauhid telah ditorehkan oleh Ibu Siti Hajar dan Nabi Ismail…

Kalau bagi kita kan nggak begitu…

Kita selalu saja sering berfikir tentang kejadian-kejadian yang telah lalu, kejadian yang tengah menimpa kita saat ini, dan apa-apa yang akan terjadi dimasa depan. Kita sering terbetot dan terikat kembali oleh semua pengalaman dan kejadian-kejadian yang telah menimpa kita dimasa lalu. Peristiwa dua-tiga menit yang lalu entah kenapa sering kita pikirkan kembali. Kejadian-kejadian sebulan dua bulan yang lalu ataupun tahunan yang lalu seperti melambai-lambai kepada kita untuk kembali kita masuki. Dan anehnya peristiwa dan kejadian masa lalu yang memanggil-manggil itu selalu saja kejadian yang tidak memuaskan dan peristiwa duka cita saja.

Yang tak kalah serunya adalah bahwa kita terlalu sering berfikir tentang orang lain. Kita ingin tahu isi pikiran orang lain. Bahkan kita seringkali ingin ikut campur pula dengan isi pikiran orang lain. Dan ini pasti akan menimbulkan “perang pikiran” diantara sesama manusia. Tidak cukup sampai disitu, perang pikiran ini tidak jarang akhirnya memunculkan perang fisik sungguhan. Peristiwa berdarah-darah yang hampir saja berulang dan berulang diberbagai pelosok dunia, adalah hasil yang logis saja tatkala kita tidak bisa memaknai fikiran itu dengan cerdas dan cerdik.

Nanti dibagian akhir tulisan ini kita akan melihat bahwa sebenarnya perbedaan kita satu sama lain dalam segala hal hanyalah akibat dari perbedaan isi pikiran, arah berfikir, arah kesadaran, dan arah ingatan kita saja. Berbeda ARAH DZIKIR saja sebenarnya. Walau perbuatan atau aktifitas kita sama, namun saat arah dzikir kita berbeda, maka kualitas perbuatan atau aktifitas kita itu tetaplah dianggap tidak sama.

Cobalah perhatikan. Tatkala arah dzikir kita tertuju kepada kejadian-kejadian yang tidak memuaskan kita dimasa lalu, maka kejadian-kejadian itu seperti ingin menyeret kita kembali mundur kemasa lalu itu. Begitu arah dzikir kita kesana, dengan seketika kita seperti ditarik kembali untuk memasuki suasana yang dipenuhi oleh rasa BENCI, KECEWA, IRI HATI, MARAH. Kalau semua rasa buruk ini sudah memuncak, LEDAKAN KEKEJAMAN kepada orang lain maupun terhadap diri sendiri dengan sangat mudahnya bisa terjadi. Hoiiii…, awas kamu. Bumm…, Duar…!.

Begitu juga saat arah dzikir kita mengarah ke berbagai peristiwa duka cita yang pernah kita alami dimasa lalu, peristiwa itu seperti ingin menarik-narik kita untuk kembali masuk kedalam suasana kedukaan itu. Dengan seketika dengan mudahnya muncul rasa MALU, PENYESALAN, RASA BERSALAH, KEKESALAN, dan KEMURUNGAN didalam keseharian kita.

Apalagi pada saat yang sama dzikir kita juga bisa dibayang-bayangi oleh harapan-harapan, gambaran-gambaran, dan cerita-cerita masa depan baik yang menjanjikan angin syurgawi maupun hawa seram NERAKA. Dengan keadaan kita saat ini yang hanya sebegini-begininya saja, jauh panggang dari api, jauh dari kesempurnaan iman, maka ujung-ujungnya kita selalu dibayangi oleh KECEMASAN, KEGELISAHAN, KETAKUTAN akan masa depan kita itu. Dengan mudahnya berbagai betuk kalimat PENYESALAN akan bergaung liar didalam otak kita. “AH COBA KALAU DULU saya begini, nggak begitu…!. ADUH… kenapa dulu saya…”.

Begitu pula, ketika kita menyangkan bahwa kita sudah beragama dengan semangat spiritualitas yang tinggi, namun tidak ada makhraja (jalan keluar) dari permasalahan-permasalahan yang kita hadapi, misalnya tentang rezki dan keperluan kita yang lainnya, maka yang muncul kemudian adalah keluhan demi keluhan kita kepada Allah maupun kepada sesama manusia. Ya…, dalam puncak keluhan kita itu biasanya kita malah melontarkan berbagai kalimat protes kepada Allah. Kita bukannya takluk dan menyerah habis kepada Allah.

Semua arah dzikir yang keliru itu tadi memberikan dampak yang sangat buruk bagi kesehatan tubuh kita. Karena BENCI, KECEWA, IRI HATI, MARAH, MALU, PENYESALAN, RASA BERSALAH, KEKESALAN, KEMURUNGAN, KECEMASAN, KEGELISAHAN, KETAKUTAN dan emosi-emosi NEGATIF lainnya akan mengacaukan keteraturan kerja seluruh sistem hormonal, aliran darah, serta jaringan syaraf dan otot yang ada ditubuh kita. Berbagai macam penyakit akan sangat mudah menghinggapi tubuh kita. Sebenarnya keadaan ini merupakan sebuah peringatan awal kepada kita bahwa ada yang salah dengan POSISI kita dihadapan Allah saat itu.

Celakanya adalah, karena kita belum pernah mengalami suasana kebalikannya secara UTUH (yang bukan ARTIFICIAL), maka saat emosi kita kacau, saat kerja sistem alam semesta kecil yang ada ditubuh kita berantakan, kita merasa itu adalah hal yang wajar saja. Itu kita anggap sebagai peristiwa alamiah belaka, sehingga tindakan kita juga hanya sebatas hal-hal yang bersifat alamiah saja. Misalnya kita datang ke dokter, ke penyembuh herbal, ke penyembuh alternatif, atau bahkan ke dukun.

Saat kita belum pernah merasakan suasana SENANG, IKHLAS, RIDHO, RELA, SABAR, BAHAGIA, SUKACITA, CERIA, TENANG, AMAN, TENTERAM, dan emosi-emosi POSITIF lainnya yang langsung diturunkan Allah sendiri kedalam dada kita, maka emosi-emosi negatif seperti diataslah yang akan lebih kuat bercokol didalam relung dada kita. Seakan-akan emosi negatif itulah diri kita yang sebenarnya. Kita akan berjalan dengan emosi-emosi negatif itu dalam keseharian kita.

Hal ini akan berbeda saat suasana dada kita PERNAH DIBALIKKAN oleh Allah dari dada yang penuh dengan emosi NEGATIF menjadi dada yang penuh dengan emosi POSITIF. Begitu suasana dada kita yang penuh dengan emosi POSITIF tiba-tiba jatuh, muncullah BENIH emosi NEGATIF menyeruak dari relung dada kita. Perubahan suasana itu begitu terasa. DUUKKK…, DESSS…, seperti ada beban yang menimpa dada kita. Rasa luas dan lapang yang sebelumnya ada, tiba-tiba hilang dari relung dada kita. Dada kita menciut menjadi sempit dan tidak nyaman. Nafas kita memburu dan terengah-engah. Dan dengan tergopoh-gopoh kita akan datang merendah kepada Allah. Kita segera minta ampun…, minta dilapangkan kembali dada kita…, sampai Allah kembali menarok emosi POSITIF dan mengambil emosi NEGATIF dari dalam dala kita.

Jadi kerjaan kita setiap saat sebenarnya sederhana saja, yaitu mengamati perubahan-perubahan suasana yang ada didalam dada kita dalam setiap aktifitas dan waktu. Karena memang dada ini adalah sebuah sistem deteksi dini (early warning sistem) untuk memantau keadaan kita. Untuk mengamati keadaan kita yang sedang diapakan oleh Allah. Disenangi Allah akan terasa. Dijauhi Allah akan terasa. Ditendang Allah akan lebih terasa lagi…

Tapi yang dialami oleh Bunda Siti Hajar kan nggak seperti kita begitu. Beliau didudukkan sendiri oleh Allah pada keadaan dimana Beliau sudah tidak mampu lagi untuk berfikir, untuk menyesal, dan untuk berharap…

DERR…, tiba-tiba semua fikiran itu lenyap. KOSONG, HENING, SENYAP, DIAM.

DERR…, seketika ada SUASANA KEABADIAN, SUASANA KELANGGENGAN.

Suasana dimana tidak ada lagi ketakutan

Tidak ada lagi kekhawatiran

Dada Beliau penuh dan berkelimpahan dengan emosi POSITIF.

Beliau menjalani hari-hari bersama Ismail dengan parasaan aman dan penuh sukacita..

Dan kemudian muncullah MAKHRAJA (jalan keluar) dari permasalahan beliau:

Tentang kekurang makanan dan minuman,

Tentang rasa takut….

Sedikit kilas balik sebelum GO…

Dulu dalam pelatihan sebuah ilmu silat, suasana seperti inilah KONON yang ingin saya dapatkan. Saya menyangka suasana ini adalah suasana yang bisa dilatih dan diolah dengan cara olah nafas, olah tubuh, olah getaran, olah pikir dan olah emosi. Tapi dengan semua cara-cara itu tadi, ternyata saya hampir tidak pernah bisa mendapatkannya. Sulit sekali. Paling banyak baru sekali atau dua kali saja saya bisa merasakannya saat itu. Dan itupun dengan berbagai pengolah fisik, olah nafas, olah getaran pribadi maupun getaran alam, dan olah objek fikir yang rumit dan melelahkan. Fisik dibuat lemah sampai pada batas bawah kekuatannya. Frekuansi keluar masuk nafas diatur selambat mungkin dengan jeda waktu sekian hitungan. Objek fikirnya adalah berbagai “titik konsentrasi” yang bertebaran disekujur ditubuh saya maupun dialam semesta. Melatihnya pun dalam waktu tahunan kalau tidak mau disebut belasan tahun.

Saya juga jadi ingat beberapa buku yang saya baca tentang berbagai ilmu meditasi dari India, China, dan dari Jepang, dan bahkan dalam ilmu tarekat. Bahwa bertemu keadaan seperti ini, masuk kedalam keadaan kosong, senyap, hening, diam, abadi, langgeng, adalah PUNCAK PENCAPAIAN pendakian rohani seseorang. Puncak suasana meditasi dan dzikir seseorang. Apalagi setelah terlatih dan mahir masuk kedalam keadaan diatas, banyak orang yang memberikan kesaksian bahwa mereka merasa berubah menjadi lebih baik, lebih bahagia, lebih sabar, lebih bersemangat, lebih dermawan, dan lebih dalam berbagai aktifitas kebaikan lainnya.

Banyak orang islam yang ikut pelatihan meditasi tersebut juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh orang-orang beragama lainnya. Seakan-akan meditasi itu telah menjadi sebuah agama universal yang bisa diikuti oleh semua orang dan semua agama.

Bahkan sekarang ini ada cara meditasi yang katanya modern dengan cara olah gelombang otak melalui bantuan suara-suara berfrekuensi tertentu. Dengan mendengarkan audio tersebut otak seseorang bisa dibawa kegelombang Alfa, Beta, dan Teta. Hasilnya tentu saja ada. Sehingga akhirnya tidak aneh kalau kemudian muncul istilah istilah seperti: semua agama pada hakekatnya adalah sama, hanya cara beribadahnya saja yang berbeda; kalau kita sudah berbuat kebaikan di dunia ini, itu sudah cukup. Dan kitapun dikepung oleh berbagai istilah yang mengaburkanan kebeningan nilai-nilai agama islam.

Namun tidak banyak yang tahu bahwa, kalau hanya dalam tataran olah otak, bahkan juga dalam tataran olah emosi, memang peran agama yang satu dengan agama lainnya ataupun peran teknologi sudah tidak bisa dibedakan lagi dengan jelas. Semua kelihatan hampir mirip, kalau tidak mau dikatakan sama.

Lalu dimana letak ketinggian islam, seperti yang dikatakan oleh Nabi dalam sebuah Hadist: “Islam adalah ya’lu wa yu’la alaihi, islam adalah tinggi dan tidak ada yan mengalahkan ketinggiannya”. Lha…, letak tingginya dimana…?

Sebagai tambahan saja…

Dalam hal ini, saya sama sekali tidak meniadakan dan tidak membantah tentang manfaat dari olah nafas, olah tubuh, olah getaran, olah pikir dan olah emosi dan berbagai proses meditasi yang ada didunia saat ini. Semuanya punya efek yang sangat positif bagi kesehatan dan kekuatan tubuh, ketenangan emosi, dan bahkan kecerdasan bagi para pemrakteknya. Tentu saja kelebihan ini berlaku bila dibandingkan dengan orang lain yang tidak pernah melakukannya sama sekali.

Misalnya, saat saya dulu kuliah di USA tahun 1993-1995, beberapa lama saya pernah melatih Kuji-kiri – The Nine Levels of Power Ninja – yaitu Rin, Kyo, Toh, Sha, Kai, Jin, Retsu, Zai, Zen. Dengan mengatur irama nafas, menyatukan posisi jemari tangan dalam bentuk-bentuk tertentu, dan berkonsentrasi dengan fokus tertentu, ternyata pengaruhnya luar biasa sekali dalam hal mengontrol pikiran saya. Saya dulu juga sering melakukan Proses Mirrorring, proses pengacaan, dengan membayangkan apa-apa yang saya inginkan dimasa depan dengan jelas dan bersikap seolah-olah semua bayangan dan impian itu telah terjadi. Ditambah lagi dengan sikap do’a dimana apa-apa yang saya do’akan itu saya masukkan kedalam “bola prana” yang saya bentuk diantara kedua telapak tangan yang saling saya dekatkan, tapi tidak sampai bersentuhan. Lalu bola prana yang sudah saya isi dengan do’a saya itu saya antarkan keatas kearah langit. Dan anehnya hampir semua yang saya bayangkan dan do’akan dulu itu bisa terealisir. Alhamdulillah…, tapi DUKK…

Namun disinilah masalah utamanya muncul dengan menakutkan. Saat saya mengucapkan “Alhamdulillah”, eh… malah rasa sombong saya muncul menyeruak dengan garang. Dalam mengucapkan Alhamdulullah itu saya seperti memuja diri saya sendiri. Alhamdulillah…, DUKK…, saat mengucapkan Alhamdulillah itu saya seperti terhambat oleh pikiran saya sendiri. Saya terhalang oleh perasaan hebat saya sendiri. Saya terhijab oleh rasa bisa saya sendiri. Dan rasa bisa diri itu begitu halusnya sehingga saya tidak sadar bahwa sebenarnya saat itu saya tengah sombong dan angkuh. Aku…

Aku………., ah sombong sekali rasanya saya ini ketika saya menyebut saya atau aku… itu.

Kesombongan dan keangkuhan yang ternyata bisa menghilangkan kehakikian RASA IMAN saya kepada Allah. Karena rasa sombong dan angkuh saya itu, rasa iman sayapun dicopot sendiri oleh Allah. Saya tidak diperkenankan-Nya untuk rukuk dan sujud yang menyembah dan mendekat kepada-Nya. Walau saat itu saya tetap rukuk dan sujud, tapi saya ternyata ruku dan sujud kepada keangkuhan dan kesombongan diri saya sendiri.

Pak Haji Slamet Otomo dan Ustadz Abu Sangkan kemudian mengantarkan saya untuk meruntuhkan keangkuhan, kesombongan, dan keakuan saya itu. Mulanya sedikit bingung, tapi akhirnya begitu nyata. Sehingga sedikit banyaknya saya bisa mengerti dan paham duduk saya ketika saya membaca kembali apa yang dulu ditulis oleh An Nafiri, di dalam bukunya “Melihat Allah”, tentang sebutan aku …

Sebutan “AKU”…

“Tidak akan diucapkan kalimat “aku”, melainkan oleh orang yang berkawan dengan kelengahan dan oleh orang yang terhijab oleh hakekat;

Engkau berani mengatakan “aku” sedangkan engkau masih terhijab daripada-Ku, pesona dunia masih mencekam dirimu; masing-masing akan menyambar dirimu dengan seruan kepada zat dirinya, engkau masih saja dalam kegaiban yang kelam dari-Ku.

Maka apabila engkau telah melihat “Aku”, dan “Aku” pun telah bernyata dihadapanmu, tetapkan keteguhamu; maka tiada Aku lagi melainkan “Aku”.

“Telah Kuciptakan (Kuadakan) untukmu dan untuk sesuatu menjadi tujuan, antara lain tujuan itu ialah “cintamu kepada dirimu sendiri” itulah tetesan waham (kalimat) yang engkau warisi, kata-katamu “aku” adalah egomu sendiri (AKU berlepas diri dari anggapan yang demikian)… dan tidak lain Zat itu melainkan kepunyaan-Ku, dan tidak lain “Aku” itu kecuali untuk-Ku semata… AKULAH yang DIA itu AKU… adapun hakikatmu, bukanlah zat dan bukan pula persoalan, hanya sesungguhnya engkau berada pada pembagian yang bersifat wahami (dugaan), hal ini disebabkan karena caramu berfikir dan pencapaianmu pada pendakian jiwa dan persoalan.

Engkau dalam setiap saat terbagi kepada “menyaksikan dan disaksikan”, dua menjadi satu dalam bentuk perjodohan… jiwa yang mencapai dan persoalan yang dicapai… adapun hakekatmu sendiri tersembunyi jauh dibalik perjodohan ini, meninggi atasnya, jauh dari segala itu semua… engkau bukan lagi zat dan perjodohan, tetapi engkau hanyalah roh dari Roh-Ku, tiada nisbat bagimu melainkan pada-Ku”.

“engkau tidak mengungkapkan hakikat ini, kecuali di kala terangkat daripadamu tirai penutup dan engkau memandang-Ku, ketika itulah lenyap daripada dirimu yang berjodohan, perjodohan yang bersifat serba duga (wahami), lalu engkau menyadari atas hakikat dirimu dan engkau dapati dirimu yang sebenarnya yang bukan zat dan bukan pula dari persoalan, tetapi hanya semurni-murninya roh; yang sederhana (Basithah) sesuatu yang tidak terbagi, (Jauhar), tunggal, meninggi, tiada nisbat melainkan kepada-Ku…, maka engkau tidak lagi mengulangi mengatakan “Aku” tetapi mengatakan “Engkaulah Tuhanku”… dan telah engkau ketahui, bahwa “Aku” adalah untuk-Ku semata, dan bahwa engkau adalah hamba-Ku”.

Seruan Allah kepada si Arif: “Hai hamba-Ku !” Jika engkau sudah tiba kepada melihat-Ku, maka tiada lagi engkau… dan apabila engkau telah tiada, maka tiada pula ada tuntutan, dan apabila tiada tuntutan hilanglah sebab, dan kalau sebab telah lenyap tiada lagi nisbah, sampai disini sirnalah hijab”…. (An Nafiri)

Ya Allah…, DERR…

Subhanallah…, ternyata masuk kedalam Ruang Spiritual seperti yang saya uraikan diatas, sampai menemukan keadaan bahwa yang ada adalah Kekosongan, Kesenyapan, Keheningan, Diam, Keabadian, Kelanggengan, itu barulah TITIK AWAL dari Iman, Islam, dan Ihsan. Itu barulah titik awal dimana agama islam baru dimulai. Ini barulah permulaan atau langkah pertama dari proses Iman kita kepada Allah. Titik awal yang paling awal. Apa-apa yang dulu saya anggap sudah paling tinggi, ternyata baru hanyalah titik awal yang paling awal dari proses spiritual yang ditularkan oleh Rasulullah Muhammad SAW kepada seluruh umat manusia.

Bahwa proses berimannya kita kepada Allah baru akan terjadi saat mana otak kita sudah tidak ramai. Otak kita sudah tidak riuh rendah dengan berbagai pertanyaan, berbagai teori, berbagai sengketa, berbagai rebutan, berbagai tuduhan, berbagai pengakuan, berbagai goresan dan bayangan. Juga saat itu kita sudah bisa KELUAR atau TERPISAH dari sergapan berbagai suara-suara simpang siur didalam otak kita. Kita terpisah, tapi tidak meninggalkan pikiran-pikiran itu. Pikiran-pikiran itu tetap ada, namun kita sudah tidak dibawah pengaruh pikiran-pikiran itu lagi.

KEADAAAN seperti Ini barulah SEPARUH KEADAAN dari persaksian kita tentang Allah. Itu barulah kesaksian kita tentang KEADAAN kalimat Laa ilaha… saja. Setengah Syahadat kepada Allah. Bahwa kita sudah bisa berlepas diri dari mempertuhankan segala suara-suara, baik yang terucapkan atau hanya yang sekedar berputar-putar liar didalam otak kita. Kita terlepas dari itu semua. Diam… !.

Kalau baru sampai ke keadaan ini, laa ilaha…, DIAM, semua orang bisa dan nyaris sama kualitasnya. Ya…, tentu saja bisa sama. Karena yang membedakan islam dengan sistem kepercayaan atau agama-agama yang lainnya adalah sambungan dari kalimat tersebut, yaitu Illa Allah…!. Bahwa Kekosongan, Kesenyapan, Keheningan, Diam, Keabadian, dan Kelanggengan itu DILIPUTI oleh WUJUD, DILIPUTI oleh AF’AL, DILIPUTI oleh DZAT yang mengenalkan Diri-Nya dengan nama ALLAH.

“Aku ini perbendaharaan tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, kemudian Aku menciptakan makhluk-Ku, dengan Allah-lah mereka mengenal Aku…”. (Hadits Qudsi).

“Innani ana Allahu, laa ilaha illa ana, FA’BUDNI, wa aqimishshalata lizikrii…!. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku (mengabdilah hanya pada-Ku), dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku… (QS: Thaha 14).

Laa ilaaha…, diam, hening, langgeng, senyap, abadi, kosong…, WUQUF…

Illaa Allah…, Ooo… Ada Allah ya…; Hhooohh… Ada Allah…

Sebenarnya…,

Kalau sudah begini barulah kita diperbolehkan untuk menyebut nama Allah.

Barulah kita pantas untuk memanggil nama Allah.

Cobalah…

Ya Allah…, Ya Allah…, Ya Allah…

DERR…, DERR…, DERR…

Kalau Allah sudah memberikan respon-Nya atas panggilan kita…, DERR..

Kita tinggal meluruh.

Kita tinggal mendekat.

Kita tinggal rukuk dan sujud.

Kita tinggal menyembah.

Kita tinggal melambaikan bendera putih.

Kita tinggal menyerah.

Menyerah untuk dishibgah-Nya…, DERR…

Menyerah untuk dikuasai-Nya…, DERR…

DERR…, kita tinggal ikut…

DERR…, ikut…

DERR…, ikuuuuut…, ikuuuut…, ikuuuuutt…………………

Karena DERR itu memang adalah TUNTUNAN…

DERR itu adalah ISTI’ANAH.

Kita kan sering menyebut dalam shalat:

Iyya KA na’budu, kepada MU kami menyembah dan mengabdi.

Iyya KA nasta’in, kepada MU kami minta TUNTUNAN.

Akan tetapi selama ini saat kita menyebut KA, arah kesadaran kita kan belum tepat.

MU kita selama ini adalah PIKIRAN kita.

Makanya yang menuntun kita adalah PIKIRAN kita…

Makanya hasilnya KACAU BALAU…, KACAU SEKALI…

Padahal kita tinggal:

Laa ilaaha…, diam, hening, langgeng, senyap, abadi, kosong…, WUQUF…

Illaa Allah…, Ooo… Ada Allah ya…; Hhooohh… Ada Allah…

ADA ALLAH…

Ya, Ada Allah…!. Kalau tidak percaya mari kita buktikan…

Dalam artikel 15/19 sampai dengan artikel 18/19 ini masih tergolong pada OLAH ILMU (olah pikiran dan olah emosi). Tapi disini sudah bukan hanya sekedar olah ilmu semata, tapi sudah masuk kepada olah ilmu yang dibarengi dengan olah aktifitas. Sedangkan di artikel 19/19 sebenarnya sangat berbeda. Prosesnya kita lakukan dulu, lalu muncul keadaan atau suasananya, dan kemudian barulah kita bercerita tentang suasana dan keadaan yang kita alami itu….

Kalau diceritakan seperti diatas mungkin terlihat agak sulit. Tapi dengan cara yang sangat sederhana berikut ini bisa lebih mudah. Cobalah…, walau hanya sejenak…

• Anda duduklah atau bisa juga berdiri dengan rileks. Tapi sebaiknya duduklah dikursi …

• Tutuplah mata anda sejenak agar pandangan anda tidak terhenti dibenda-benda (nanti-nantinya mata itu anda sudah tidak perlu lagi ditutup).

• Sebutlah sebuah nama…, bisa nama apa saja…

• Lalu amatilah pikiran anda yang terhubung dengan nama tersebut…

• Sebutlah sebuah nama, misalnya MONAS…

• Bagi anda yang sudah pernah melihat tugu monas, maka pikiran anda akan otomatis bergerak kesebuah bentuk tugu yang terletak dijantung kota Jakarta.

• Pikiran anda akan terhenti di bentuk tugu tersebut.

• Ulanglah menyebut nama monas itu berkali-kali…

• Monas…, monas…, monas…

• Dan secara otomatis anda tidak akan mampu terlepas dari bentuk tugu tersebut.

• Anda akan melupakan apapun yang lain selain dari bentuk tugu monas tersebut.

• Saat itu dzikir anda tentang tugu monas adalah sangat tepat.

• Bacaan anda, pikiran anda, kesadaran anda, dan rasa anda saat itu sejalan dan seirama.

• Mungkin sesekali masih muncul rasa kagum anda terhadap keindahan tugu itu.

• Tapi lama kelamaan tidak ada rasa apa-apa lagi saat anda menyebut nama monas itu.

• Anda boleh lanjutkan dengan menyebut beberapa nama lainnya secara berulang-ulang.

• Misalnya nama orang, nama tokoh, nama publik figure, nama pemuka agama, dsb…

• Sebutlah nama Ariel Peterpan…

• Anda amatilah kemana arah pikiran dan kesadaran anda saat anda menyebut nama itu.

• Bagi anda yang didalam otaknya nama Ariel Peterpan itu hanyalah seorang penyanyi, maka anda akan terhenti dipikiran anda tentang bagaimana gaya dan kata-kata si Ariel Peterpan tersebut dalam bernyanyi.

• Sebentuk rasa senang juga bisa muncul didada anda saat anda menyebut nama itu.

• Akan tetapi bagi anda yang telah melihat video mesum orang yang “mirip” dia dengan orang yang “mirip” temannya, maka pikiran dan kesadaran anda seketika itu juga akan terhenti di video mesum itu. Anda akan tidak ingat dan sadar lagi dengan lagu-lagunya yang dulu mungkin anda sukai. Bahkan rasa birahi anda akan muncul saat itu juga.

• Setiap nama Ariel Peterpan anda sebut, maka pikiran, kesadaran, dan rasa anda akan berhenti di file memori anda tentang atribut si Ariel Peterpan tersebut.

• Artinya dzikir anda saat itu sangat tepat.

• Saat anda menyebut nama si Ariel, maka bacaan, sadar, ingat, dan rasa anda tentang dia sangat seirama dan sejalan.

• Sekarang mari kita sebut nama-nama yang sangat kita muliakan dalam hidup kita.

• Misalnya panggillah Ibu…

• Dengan seketika pikiran anda akan terbang menuju sesosok wanita yang sangat anda hormati.

• Bagi anda yang sudah lama tidak berjumpa dengan Beliau, ada muncul sebentuk rasa rindu, rasa sayang, rasa hormat yang menggumpal didalam dada anda.

• Untuk sesaat anda akan berada dalam suasana dimana ucapan anda, pikiran atau rasa ingat anda, dan rasa anda berada dalam keadaan yang sangat sinkron. Sebuah suasana dzikir yang tepat.

• Begitu juga ketika anda menyebut nama yang sangat anda agungkan dan sangat-sangat anda muliakan. Yaitu Tuhan…

• Panggillah…, Tuhan…, Allah…, God…

• Lalu amatilah kemana arah pikiran dan arah kesadaran anda beranjak.

• Amati pulalah bagaimana rasa anda berubah saat menyebut nama Allah itu.

• Kalau saat menyebut Allah, Tuhan, God, itu kesadaran anda segera terhenti di bentuk, gambar, patung Yesus, maka anda adalah seorang yang beragama kristen. Walau ditambah dengan berbagai irama lagu yang sangat syahdu sekalipun, kesadaran dan arah pikir anda tetap saja akan terhenti hanya sampai di bentuk gambar atau patung Yesus tersebut. Dan rasanyapun akan ada. Saat itu ucapan anda, arah pikiran anda, arah kesadaran anda, dan rasa anda sejalan dan seirama terhadap segala atribut Yesus dan kekristenan lainnya yang telah anda ketahui sebelumnya.

• Bentuk ucapan, arah pikiran, arah kesadaran, dan rasa ini pulalah yang akan membedakan apakah anda itu seorang beragama Hindu, Budha, Konghucu, atau bentuk-bentuk aliran kepercayaan lainnya.

• Kalau kita umat islam saat menyebut nama Allah, kesadaran dan arah pikirannya juga terhenti pada Huruf Arab ALLAH, maka hakekatnya saat itu dzikir kita juga hanya berhenti sampai di Huruf Arab tersebut. Diolah bagaimanapun emosi dan pikiran kita, maka kita hanya akan tetap terhenti di Huruf Allah dalam bahasa arab tersebut.

Sekarang mari kita lanjutkan eksplorasi kesadaran dan arah pikiran kita…

• Peganglah dada anda dengan kedua telapak tangan, dan rasakan bahwa kesadaran anda saat itu otomatis beralih kedada. Secara mengejutkan seketika itu anda buat sejenak sudah keluar dari ruang otak anda. Anda sudah keluar dari ruang pikiran anda yang sebelumnya begitu liar. Ini namanya anda baru saja masuk keruangan dimana anda tanpa perlu berfikir lagi. Anda duduk diwilayah dimana anda siap untuk merasakan.

• Kesadaran anda sekarang berada didalam dada anda.

• Mulai sekarang anda akan berlatih bagaimana caranya menjadi seorang pengamat. Pengamat tapi bukan dengan mata, tapi pengamat dengan memakai alam rasa. Bukan alam fikiran lagi.

• Ya…, anda hanya dan hanya menjadi seorang pengamat. IQRAA…

• Iqraa…, amati dan rasakanlah…

• Untuk menjadi seorang pengamat, anda tidak perlu berfikir sedikitpun.

• Amati dan rasakan sajalah…, sehingga tidak ada lagi PIKIRAN yang bisa membetot kesadaran anda.

• Amati dan rasakanlah nafas anda sejenak.

• Otomatis anda tidak ingat lagi kepada yang lain.

• Amatilah keluar masuknya nafas itu untuk beberapa saat.

• Rasakanlah sejenak keluar masuknya nafas anda itu.

• Cobalah amati dan rasakan dengan seksama…

• Bahwa anda ternyata tidak bisa membuat nafas.

• Nafas anda keluar dan masuk dengan sendirinya.

• Anda ternyata tidak berbuat apa-apa untuk bernafas itu.

• Nafas itu seperti “ada” yang menggerakkannya.

• Seperti “ada” yang memegang nafas itu.

• Sehingga nafas itu bisa keluar…, masuk… dengan teratur.

• Amatilah “ada” itu untuk beberapa saat…

• Cobalah anda TAHAN pergerakan nafas anda itu buat sejenak.

• Amati dan rasakanlah bahwa pada waktunya anda akan DIPAKSA agar anda kembali bernafas

• “Ada” itu akan memaksa anda untuk bernafas kembali.

• Amati dan rasakanlah bagaimana akibatnya kalau anda TETAP menahan nafas itu.

• Sekarang amati dan rasakanlah dada anda.

• Disitu juga ada rasa.

• Kadang ada rasa sukacita, dan kadang ada rasa dukacita.

• Ada juga rasa susah dan ada pula rasa senang.

• Ada rasa cinta dan ada rasa benci.

• Ada rasa damai dan ada rasa takut.

• Dada kita seperti tempat terjadinya berbagai suasana panggung sandiwara belaka.

• Dada kita seperti tempat terjadinya silih berganti episode dunia permainan saja.

• Kita selama ini seperti ikut saja setiap episode dunia sandiwara dan permainan itu.

• Amatilah dan rasakanlah dengan telaten…

• Bahwa ternyata anda juga tidak bisa membuat rasa-rasa itu.

• Rasa sukacita atau rasa dukacita itu seperti ditarok kedalam dada anda.

• Tiba-tiba anda bisa merasa senang, dan lain kali anda merasa susah.

• Anda tidak bisa menciptakan rasa senang dan susah itu.

• Rasa itu seperti dipersilih dipergantikan untuk menempel didada anda.

• Ya…, rasa itu seperti “ada” yang menempelkannya kedalam dada anda.

• Rasa itu seperti “ada” yang memeganginya didada anda.

• Amatilah “ada” itu untuk beberapa saat…

• Sekarang amati dan rasakanlah pikiran dan tahu anda dengan seksama…

• Pikiran dan tahu anda tentang apapun juga seperti “ada” yang meletakkannya kedalam otak anda.

• Pikiran dan tahu itu seperti “ada” yang menempelkannya kedalam otak anda.

• Sehingga anda merasa bisa berfikir.

• Sehingga anda merasa tahu…

• Amatilah dan rasakanlah…

• Bukankah anda sebenarnya tidak bisa membuat pikiran?.

• Bukankah anda tidak bisa pula membuat tahu?.

• Ya…, anda sebenarnya tidak bisa menciptakan pikiran dan tahu.

• Saat ada benih pikiran yang ditarok kedalam otak anda, maka anda dinamakan si berfikir.

• Lalu anda akan ikut pergerakan perkembangan benih pikiran itu.

• Saat ada benih tahu ditempelkan diotak anda, maka anda disebut si tahu.

• Lalu anda akan ikut pergerakan perkembangan benih tahu itu.

• Tapi saat tidak ada pikiran yang ditarok kedalam otak anda, maka anda dinamakan si tidak tahu.

• Lalu anda akan selalu ikut perkembangan benih tidak tahu itu.

• Anda akan hidup dialam ketidaktahuan…

• Saat tidak ada tahu yang diletakkan kedalam otak anda, maka anda dinamakan si bodoh.

• Lalu anda akan terbawa terus oleh perkembangan benih kebodohan itu.

• Anda akan hidup dialam kebodohan….

• Nah…, amati dan rasakanlah….

• Fikiran dan tahu itu seperti “ada” yang menaroknya kedalam otak anda.

• Amati dan rasakanlah “ada” itu untuk beberapa saat…

• Tahap selanjutnya cobalah amati dan rasakan RASA INGIN yang ada didalam dada anda.

• Anda sebenarnya tidak bisa membuat rasa ingin.

• Rasa ingin itu sesungguhnya hanya seperti diletakkan didalam dada anda.

• “Ada” yang meletakkan rasa ingin itu didalam dada anda.

• Sehingga tiba-tiba anda seperti ingin akan sesuatu.

• Lalu anda seperti “ada” yang maksa agar anda segera memenuhi rasa ingin itu.

• Kalau rasa ingin itu tidak diletakkan kedalam dada anda,

• Maka anda tidak akan pernah ingin akan sesuatu itu.

• Lalu seperti “ada” yang memaksa anda agar anda tetap tidak ingin untuk beberapa waktu.

• Lalu anda disebut sebagai si tidak ingin.

• Amati dan rasakanlah “Ada” itu buat sesaat

• Begitu juga dengan rasa ingat.

• Anda sebenarnya tidak bisa menciptakan rasa ingat itu.

• Rasa ingat itu juga sesungguhnya “Ada” yang meletakkannya didalam otak anda dan didalam dada anda.

• Kalau ingat itu ditarok oleh “sang Ada” didalam otak anda, maka itu namanya anda ingat akan bentuk dan rupa.

• Tapi kalau ingat itu ditarok oleh “Sang Ada” didalam dada anda, maka itu namanya anda punya rasa ingat kepada Yang Hakiki. Rasa ingat terhadap sesuatu yang tidak ada bentuk dan rupa. Rasa ingat dalam kesadaran.

• Kalau tidak ada rasa ingat itu ditarok di dalam otak anda, maka anda dinamai si lupa.

• Kalau tidak ada rasa ingat itu ditarok di dalam dada anda, maka anda dinamai si tidak sadar.

• Lalu anda akan dipaksa agar tetap berada dialam lupa dan alam ketidaksadaran itu.

• Anda akan dipaksa untuk berjalan dalam hidup anda didunia lupa dan dunia tidak sadar itu.

• Sejenak amati dan rasakanlah “Ada” itu dengan seksama…

Sampai disini, semua orang sebenarnya masih sama. Yaitu menjadi seorang pengamat dan perasa atas diri anda, atas nafas anda, atas rasa anda, atas pikiran anda, dan atas tahu anda. Bahkan anda sudah bisa pula mengamati seperti “ada” yang menarok, mengalirkan, menempelkan, menggerakkan semua itu melewati anda. Ya…., “ADA”. Siapa saja yang mau melakukan pengamatan seperti ini, maka kualitas kesadarannya akan sama tingkatan kesadarannya.

Untuk mencapai keadaan seperti ini sebenarnya masih banyak cara yang lain. Misalnya didalam dunia sufi, dzikir sambil berputar-putar akan membuat kita merasakan jiwa kita seperti melambung tinggi keangkasa lepas. Dzikir seperti ini terkenal sebagai dzikir “Jalaludin Rummi”. Pada awalnya kita bisa terjatuh dan berguling-guling, tapi saat otak kita sudah bisa menerima keadaan tubuh yang berputar-putar itu, maka pergerakan kita akan seirama dengan musik yang mengiringi kita saat menari berputar-putar itu. Ada sensasi dimana kita sudah tidak terpengaruh lagi oleh perputaran tubuh kita yang bergerak seperti gasing itu. Ditahun 2001 kami bersama-sama beberapa teman patrapis juga pernah merasakannya. Kami melakukannya di taman pramuka Cibubur. Tapi hanya beberapa kali saja. Setelah tahu dan mengalaminya ya sudah…

Atau ada cara lain yang sangat kasar untuk masuk kedalam keadaan ini, yaitu melalui alam PENDERITAAN dan KEPEDIHAN. Dipuncak penderitaan dan kepedihan anda, saat anda tidak bisa apa-apa lagi, saat anda tidak punya tempat bergantung lagi, saat anda sudah tidak ada harapan lagi, saat itu akan ada yang sadar dan hidup. Ada kesadaran anda yang murni muncul. Diri anda yang hakiki akan mengeliat. Hal ini persis seperti yang dialami oleh FIR’AUN ketika dia mau tenggelam. Akhirnya Dia berkata: “Aku percaya kepada Tuhannya Musa dan Harun…”. Tapi kan sayang sekali kalau kita ikut contoh FIR’AUN ini. Karena ternyata ada cara lain yang lebih sederhana dan mencengangkan. Cara yang bukan melalui alam penderitaan dan kepedihan.

Hasil sementara yang sangat menakjubkan dari proses IQRAA ini adalah bahwa sekarang anda menjadi seperti terpisah dengan diri anda. Anda terpisah dengan nafas anda. Anda terlepas dengan rasa anda. Anda terputus dengan pikiran anda dan dengan tahu anda. Anda semata-mata hanyalah seorang pengamat dan perasa atas semua itu. Anda berada diatas kesemuanya itu. Anda bahkan mulai bisa pula menyadari akan “ADA” yang sedang beraktifitas pada pikiran, tahu, rasa, dan nafas anda. Anda berada dalam Posisi Bashirah… yang merupakan realitas keadaan dari surat Al Qiyamah ayat 14

Balil insanu `ala nafsihi Bashirah…, bahkan pada manusia itu, diatas dirinya ada yang tahu (bashirah). (al Qiyamah 14).

Pembeda yang Tegas

Yang membedakan kualitas manusia satu dengan yang lainnya sebenarnya sederhana sekali. Yaitu: yang pertama, apakah anda mampu atau tidak untuk menyadari siapa diri anda yang sejati; dan yang kedua, apakah anda berhasil pula atau tidak untuk melakukan langkah-langkah pengembalian dan langkah-langkah mengikatkan diri kepada alamat bergantung yang tepat. Karena dua hal inilah yang akan menentukan langkah anda berikutnya didalam hidup anda.

Dengan anda ketahui dua pokok utama kesadaran seperti diatas, bahwa anda tahu siapa diri anda yang sejati, dan anda tahu pula alamat pengembalian atas segala atribut yang ada miliki, serta anda paham tempat bergantung dan mengikatkan diri anda selama hidup anda, maka selanjutnya anda akan tahu apa tugas-tugas dan misi anda sehingga anda diturunkan kemuka bumi ini. Anda akan tahu kenapa anda harus ada dimuka bumi ini.

Boleh jadi dengan berbagai sebab seperti yang telah diterangkan diatas, anda telah berhasil menyadari diri anda sebagai sang BASHIRAH. Namun beda anda satu dengan yang lainnya adalah, apakah setelah anda menyadari bahwa anda sejatinya adalah Bashirah, sang pengamat dan sang perasa, anda kemudian kembali menjadi seorang yang tercover (KAFIR), atheis, atau kristen, budha, hindu, atau apakah anda kemudian berhasil bermetamorfosis sempurna menjadi seorang mukmin yang tidak hanya patuh kepada hukum-hukum Allah tetapi juga yang beriman dan berihsan.

Untuk memahami “posisi” diri anda saat ini, amatilah dan rasakanlah langkah langkah-langkah berikut ini:

• Saat anda kembali mengaku bahwa “ada” itu adalah diri anda sendiri, maka jadilah anda kembali menjadi seorang yang tercover (kafir) dari “ada” yang hakiki. Maka anda akan mengakui bahwa semua itu adalah milik anda.

Anda akan mengaku bahwa yang bernafas adalah anda.

Anda akan mengaku bahwa yang merasa adalah anda.

Yang sedih adalah anda.

Yang gembira adalah anda.

Yang susah adalah anda.

Yang senang adalah anda.

Yang sukacita adalah anda.

Yang dukacita adalah anda.

Semua itu tadi anda akui sebagai milik anda.

Lalu akhirnya anda akan mengaku bahwa rasa itu adalah anda sendiri.

Sehingga anda tidak akan pernah sadar bahwa anda telah menjadi orang yang selalu dipermainkan oleh rasa-rasa itu sepanjang masa. Karena memang anda telah menjadi rasa itu sendiri. Inilah bentuk siksa neraka atau nikmat syurga yang ada di dunia saat ini. Anda akan merasa ikut terbolak-balik dibuai oleh rasa itu.

Saat tercover…

Anda juga akan mengaku bahwa yang berfikir dan tahu itu adalah anda sendiri.

Dan anda akan berubah jadi pikiran dan tahu anda itu.

Anda akan mengaku bahwa yang hebat dan yang tahu adalah anda.

Yang cerdas dan yang tahu adalah anda.

Yang ahli dan yang tahu itu adalah anda.

Yang ingin adalah anda.

Yang ingat adalah anda.

Sehingga andapun akan merasa bahwa anda adalah pikiran dan tahu anda itu sendiri.

Anda akan merasa bahwa anda adalah rasa ingin dan rasa ingat anda itu sendiri.

Anda akan menjadi orang yang merasa sangat hebat.

Anda merasa sangat hebat, tapi hanya sebatas sehebat pikiran dan tahu anda itu saja.

Diwilayah pengakuan ini sangat ramai sekali dengan berbagai pikiran dan persepsi.

Karena setiap orang akan bisa mengaku bahwa dia hebat dan tahu.

Setiap orang akan bisa mengaku lebih hebat dan lebih tahu dari yang lain.

Setiap orang akan bisa mengaku bahwa dialah yang paling hebat dan yang paling tahu.

Ramai sekali…, riuh rendah sekali…,

Dan tentu saja melelahkan.

• Inilah keadaan yang terjadi saat anda mengakui “ada” itu adalah anda, yang sebenarnya bukan hak anda untuk mengakuinya.

• Selanjutnya, boleh jadi anda sudah tidak tercover lagi dengan diri anda seperti diatas. Anda sudah bisa terlepas atau copot dari alam rasa dan alam pikiran anda sendiri. Itu terjadi baik melalui PERUBAHAN KESADARAN yang DISENGAJA (dengan berserah diri) atau melalui PERUBAHAN KESADARAN karena dipaksa oleh sebuah PENDERITAAN dan KEPEDIHAN PEKAT yang menjambangi anda (hal ini akan dibahas dibagian terpisah).

Bagaimanapun caranya…, yang penting adalah anda sudah berubah dan bermetamorfosis menjadi semata-mata sebagai pengamat atas pikiran, atas rasa, atas tahu, atas ingin, dan atas ingat anda. Sampai disini sebenarnya anda sudah mendapatkan pencapaian yang sangat bagus.

Namun…, masalah utama yang muncul adalah saat anda hendak mengembalikan dan menghentikan kesadaran itu kesuatu alamat yang anda sangat hormati. Anda ingin menghentikan dan mengembalikan kesadaran tentang rasa, pikiran, tahu, ingin, dan tahu itu kepada sesuatu yang sangat anda agungkan, pada arah dan alamat tertentu. Bahwa anda akhirnya sadar bahwa ternyata nafas dan rasa itu “ada” yang meletakkannya didada anda. Bahwa fikiran dan tahu itu “ada” yang menaroknya diotak anda. Lalu “Ada” itu siapa dan dimana…?

• Kalau anda kembali berhenti dikesadaran bahwa semua itu hanyalah peristiwa alamiah biasa saja, maka anda akan menjadi orang yang atheis. Anda tidak akan pernah mampu untuk masuk kewilayah agama-agama yang ada. Sehingga anda tidak akan pernah mau melakukan ritual-ritual sesuai dengan ritual salah satu agama-agama yang ada saat ini.

• Saat anda kembali berhenti dikesadaran bahwa semua itu adalah karena “ada” Tuhan… Bahwa “ada” itu adalah Tuhan. Bahwa “ada” itu adalah Allah, maka anda telah masuk kewilayah agama-agama yang ada didunia ini. Semua orang beragama pastilah mengenal istilah Tuhan, Allah, God, atau istilah-istilah lainnya yang melambangkan sesuatu yang sangat diagungkan dan dihormati oleh para penganut agama tertentu. Sampai disini, semua agama masih bisa disebut sama saja sebenarnya. Bahwa para penganutnya mengakui bahwa “ada” Wujud yang mendominasi diri mereka disetiap saat.

Kalau anda berhenti disini saja, maka anda akan menjadi seorang PLURALIS tulen dalam urusan iman anda. Bahwa anda akan menyamaratakan iman semua agama dan kepercayaan yang ada diseantoro dunia ini. Anda akan berfikiran bahwa semua agama adalah sama baik dan sama benarnya belaka. Anda hanya akan menyimpulkan bahwa semua agama akan mengajak penganutnya kepada perbuatan baik. Mengajak para penganutnya kepada kebaikan buat sesama dan kepada alam semesta. Hanya cara dan ibadahnya saja yang berbeda-beda. Tapi tujuannya sama saja, yaitu ingin beribadah kepada Tuhan. Pluralis sekali anda dalam masalah iman dan ibadah. Apalagi saat anda menyebut nama Tuhan, menyebut nama Allah itu, anda hanya merasa biasa-biasa saja. Anda akan semakin tidak bisa membedakan hakikat agama-agama yang ada didunia ini. Anda akan menjadi seorang yang berfikiran pluralisme tulen dibidang iman dan ibadah agama-agama…

Catatan: Pluralis dalam hubungan sesama manusia adalah sebuah keniscayaan saja. Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah keharusan belaka dalam bernegara dan berbangsa…

Bagi anda yang tidak ingin berhenti dikesadaran pluralisme dalam hal iman dan ibadah ini, mari lanjutkan perjalanan anda. Saya sarankan anda jangan berhenti dulu disini. Teruslah berjalan buat sejenak, karena anda hampir menemukan jawaban yang anda cari-cari selama ini.

Menjelang Penentuan…

Sekarang amatilah tempat berhentinya kesadaran anda saat anda menyebut nama Tuhan. Amatilah arah kesadaran anda saat anda menyebut nama Allah:

Ya Allah…, ya Allah…, ya Allah

Amatilah…, saat itu kesadaran anda terbawa pergi kemana.

Panggillah ya Tuhan…, ya Tuhan…, ya Tuhan

Amatilah…, saat itu kesadaran anda terhenti dimana…

Panggillah ya Ilahi…, ya Ilahi…, ya Ilahi…

Amatilah…, saat itu kesadaran ada terhenti pada wujud apa…

Kalau jawabannya:

• Bahwa saat itu kesadaran anda bergerak dan kemudian kembali terhenti ke gambar atau patung Yesus dengan berbagai ekspresi wajah, atau ke rosario, atau ke salib, atau ke patung bunda maria, dan atribut-atribut kekristenan lainnya, maka anda akan menjadi seorang yang beragama Kristen. Betapapun teguh dan kerasnya anda mengucapkan kata Allah atau Tuhan itu, maka KESADARAN anda akan tetap TERHENTI disemua gambar, patung, dan benda-benda itu. Semua pencapaian kesadaran, iman, pikiran, rasa, dan ritual anda akan tetap terhenti kembali di keatributan YESUS. Dzikir anda hanya terhenti sampai di gambar Yesus. Anda pasti akan mengatakan bahwa hanya agama kristen lah yang terbaik dan terbenar.

• Kalau saat itu kesadaran anda bergerak dan kemudian terhenti di patung-patung atau gambar-gambar makhluk dengan berbagai wajah yang menakutkan, maka boleh jadi saat itu anda sedang menjadi seorang beragama Hindu. Anda akan berpikiran bahwa hanya agama Hindu lah yang terbaik dan terbenar.

• Begitu juga kalau saat itu kesadaran anda kemudian berhenti dipatung Budha, maka saat itu anda sebenarnya adalah menjadi penganut agama Budha. Anda akan menyatakan bahwa agama Budha lah yang terbaik dan terbenar.

• Berhentinya kesadaran anda diberbagai tempat perhentian kesadararan lainnya juga bisa terjadi. Misalnya kesadaran anda terhenti digambar dewa-dewi, atau digambar corat-moret dengan berbagai bentuk, atau digambar orang-orang yang penuh dengan penderitaan, atau digambar-gambar cakra, atau dibentuk-bentuk artificial lainnya.

• Bahkan bagi umat islam, huruf Allah dalam bahasa arab atau Ka’bah sekalipun bisa menjadi penghalang dzikir kita kepada Dzat-Nya, Sang Pemilik Nama, Sang Pemilik Ka’bah. Kalau pikiran, kesadaran, dan pandangan kita terhenti dihuruf Allah atau bentuk Ka’bah itu, dampaknya akan sama saja.

• Semua keadaan tadi sebenarnya serupa dan sebangun. Bahwa saat itu pikiran anda, kesadaran anda, tahu anda, dan rasa anda, anda kembalikan, anda tautkan kepada sesuatu yang punya bentuk dan rupa. Walau dalam pengakuan anda, seringkali anda menyangkalnya, bahwa anda bukan menyembah benda-benda itu, namun pada hakekatnya anda tidak dapat berkilah sedikitpun bahwa pada hakekatnya pikiran, kesadaran, rasa, dan tahu anda berhenti dan berlabuh di benda-benda itu dalam setiap aktifitas anda. Dzikir anda utuh kepada bentuk-bentuk dan rupa-rupa itu. Dan disitu pulalah semua kebaikan dan kebenaran anda berlabuh.

Akibatnya anda akan dibuat sibuk untuk bercerita, untuk membahas, untuk berpolemik, untuk saling rebutan, untuk saling membantah, saling menghujat, saling meyakinkan tentang bentuk-bentuk dan rupa-rupa itu. Ramai sekali…, karena memang saat itu anda sedang berada diwilayah keramaian dan wilayah keriuhrendahan…

Apakah anda mau berhenti disini?…

Akhir Perjalanan…

• Sekarang cobalah anda amati kembali nafas anda untuk beberapa kali tarikan nafas.

• Sampai kemudian anda kembali menyadari bahwa:

• “ADA” yang menggerakkan nafas itu keluar dan masuk paru-paru anda.

• Anda sebenarnya hanya diam…

• Anda tidak bisa membuat nafas.

• Amatilah rasa didalam dada anda buat beberapa saat.

• Sampai kemudian anda kembali menyadari bahwa:

• “ADA” yang menarok rasa sukacita maupun dukacita didalam dada anda.

• Anda sebenarnya hanya diam…

• Anda tidak bisa membuat rasa.

• Amatilah pikiran dan tahu anda buat beberapa waktu.

• Sampai kemudian anda menyadari bahwa:

• “ADA” yang menarok pikiran dan tahu kedalam otak anda.

• “ADA” yang meletakkan rasa ingin kedalam dada anda

• “ADA” yang menarok rasa ingat kedalam dada anda.

• Anda sebenarnya hanya diam…

• Anda tidak bisa membuat pikiran dan tahu itu.

• Anda tidak bisa membuat rasa ingin dan rasa ingat itu.

• Amatilah “ADA” itu buat sejenak.

• Ada itu bukan nafasmu.

• Ada itu bukan rasamu.

• Ada itu bukan pikiranmu.

• Ada itu bukan tahumu.

• Ada itu bukan rasa inginmu.

• Ada itu bukan rasa ingatmu.

• Tapi ADA…

• ADA yang menggerakkan nafasmu…

• ADA yang menarok rasamu.

• ADA yang menarok pikiranmu.

• ADA yang menarok tahumu.

• ADA yang menarok rasa inginmu.

• ADA yang menarok rasa ingatmu.

• Sekarang dongakkan kepalamu kelangit.

• Tutup sajalah mata anda untuk beberapa saat.

• Dagumu tengadahkan keatas.

• Dadamu dibusungkan sehingga dadamu pun seperti lebih lapang dan luas.

• Buanglah nafasmu agak panjang keatas, kearah langit…

• Hhaaaahhhhh…

• Ulangilah beberapa kali sampai anda menyadari bahwa nafas anda itu ternyata bisa menenuhi ruang angkasa.

• Hhhaaahhhh…, hhhaaahhh…, haahhhhh….

• Sekarang….

• Seiring dengan keluarnya nafas anda, panggilah sebuah nama yang sangat mengetarkan…,

• Panggilah dengan agak panjang…, panggillah dengan lembut…

• Panggillah…

• Jangan ragu-ragu..

• Panggillah… ya Allaaaaaaaaah…

• Lembut sekali…

• Ya Allaaaaaaaah…, Ya Allaaaaaaah…, Ya Allaaaaaah…!.

• Lembut sekali…

• Panggillah nama Allah seperti itu untuk beberapa kali dengan sungguh-sungguh.

• Pasti anda sedang mengalami suasana direspon dan dijawab oleh Allah…

• Jangan takut…

• Angkatlah tangan anda seperti sedang berdo’a..

• Angkatlah lebih tinggi lagi, dan lebih tinggi lagi dengan perlahan.

• Hantarkan dengan niat anda bahwa “ADA” itu adalah milik Allah.

• Sampaikanlah:

• Semua ini adalah milik-Mu ya Allah…

• “ADA” ini adalah milik-Mu…

• Panggillah… ya Allaaaaaaaaah…

• Ya Allaaaaaaaah…, Ya Allaaaaaaah…, Ya Allaaaaaah…!.

• Ya Allaaaah, ya Rahmaan…., Ya Allaaaaaah…, Ya Rahmaaaan…

• Ikuti saja apa yang anda dapatkan saat itu, jangan anda lawan sedikitpun.

• Tetaplah panggil Ya Allaaaahhh, ya Rahmaan…., Ya Allaaaaaah…, Ya Rahmaaaan…

• Ikuti saja apa yang anda dapatkan saat itu, jangan anda lawan sedikitpun.

• Ikuti saja…

• Ikuti…

• Karena anda akan bertemu dengan suasana demi suasana…

• Anda akan masuk kedalam keadaan demi keadaan…

• –

• –

• –

• –

Hasil Yang Mencengangkan..

Pada saatnya…, dengan sangat pasti kesadaran anda hanya akan tertuju kepada Allah…

Kesadaran anda akan ditarik…, DERR

Kesadaran anda akan dituntun…, DERR

DERR…, anda akan disadarkan akan Sang Maha Tinggi.

DERR…, anda akan dituntun menuju Sang Tanpa Batas.

DERR…, anda akan ditarik kearah Sang Maha Besar.

“ADA” Sang Tanpa Batas…

“ADA” Sang Maha Meliputi…

Tidak ada rupa dan bentuk lagi yang akan menghentikan gerak kesadaran anda..

Tidak ada kata dan aksara lagi yang akan menghalangi gerak kesadaran anda…

Tidak ada nada dan irama lagi yang akan menghentikan gerak kesadaran anda…

Saat anda menyebut dan memangil nama Allah…

Maka kesadaran anda jadi utuh tanpa halangan…

Pikiran anda akan diam tak bergeming…

Anda akan sadar dengan penuh kepada Allah…

Anda akan bertemu dengan separuh lainnya dari kalimat syahadat…

Illa Allah…., Illa Allah…, illa Allah…

Sehingga syahadat andapun menjadi lengkap:

Laa ilaha illa Allah…, laa ilaha illallah…, laa ilaha illallah…

Karena memang anda sudah tidak punya siapa-siapa lagi, kecuali hanya Allah…

Anda tidak akan mau lagi menghentikan pikiran dan kesadaran anda dibenda-benda…

Saat menyebut nama Allah…, pikiran anda, kesadaran anda, tahu anda, rasa anda, ingin anda akan bermuara kepada Allah…, dzikir anda adalah kepada Allah…

Maka anda akan dipahamkan tentang sesuatu yang sudah ratusan tahun DILUPAKAN oleh umat manusia:

Oooh…, Ada Wujud Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.

Ohh…, Ada Dzat Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu.

Huu…, Ada Sang MUHIITHUN…

“Innahu bikullisyai in muhiithun…”

Sehingga:

DERR…, Dzikir anda menjadi dzikir yang hidup.

DERR…, Dzikir anda menjadi dzikir yang utuh.

DERR…, Shalat anda menjadi shalat yang utuh.

DERR…, Aktifitas anda juga akan menjadi aktifitas yang utuh.

Aktifitas seorang hamba dihadapan Allah…

DERR…, Anda akan diberi TAHU oleh Allah.

Tentang apa-apa yang tidak anda ketahui…

Tentang apa-apa yang harus anda lakukan…

Sehingga tahu itu akan menjadi petamu dalam perjalananmu…

Tahu itu akan menjadi makrifatmu…

DERR…, Anda akan diberi RASA INGIN oleh Allah,

Sebagai tanda bahwa DIA mengizinkanmu untuk mewakili-Nya…

Bahwa DIA mempersilahkanmu untuk beraktifitas dalam hidupmu…

Anda akan diberi DAYA oleh Allah…, DERR…, DERR…, DERR…

Agar anda bisa menjalankan rasa ingin itu…

Agar anda bisa merealisasikan rasa ingin itu…

Semua itu anda lakukan hanya dengan “menumpang” pada daya itu…

Anda seperti “mengapung” bersama daya itu….

Daya itu akan membuat anda tidak capek dan tidak lelah…

Daya itu akan membuat anda tidak takut dan tidak khawatir…

Daya itu penuh muatan Kesukacitaan…

Namun…

Kadangkala daya itu juga mengantarkan anda menuju kesulitan hidup…

Kadang daya itu juga menumpangkan anda menuju penderitaan hidup…

Kadangkala daya itu juga mengapungkan anda menuju kesusahan hidup…

Akan tetapi….

Anda seperti terpisah dengan kesulitan, penderitaan, dan kesusahan itu.

Kesulitan, penderitaan, dam kesusahan itu tetap terjadi pada diri anda…

Anda seperti disiapkan untuk bisa menghadapi kesemuanya itu.

Anda dibuat siap…

Dalam kesulitan itu anehnya tidak ada kedukacitaan…

Dalam penderitaan itu anehnya tidak ada kepedihan…

Dalam kesusahan itu anehnya tidak ada keperihan…

Yang ada tetaplah kesukacitaan…, dan tentu saja RIDHA, IKHLAS…

Suasana tanpa protes dan tanpa penolakan…

Dan akhirnya… DERR..

Daya itu menuntun anda menuju SANG PUNYA DAYA

Sebab Daya itu berujung pada Sang Punya Daya.

Sebab Daya itu hanya sebentuk cover atas Sang Punya Daya…

Dibalik daya itulah Sang Punya Daya sedang menunggu anda…

Anda tinggal memanggil-Nya dengan santun…

Allah…, Allah…, Allah…

Andapun akan direspon oleh Allah…

DERR…, DERR…, DERR…

Lalu dalam keseharian anda akan selalu berkata:

Laa haula wala quwwata illa billah…

Anda mengakui tentang kesempurnaan ketidakberdayaan anda…

Anda akan bersaksi tentang kesempurnaan keberdayaan Allah…

Sehingga…, dari waktu ke waktu tiada lain yang bisa anda lakukan….

Dengan mengucap “Bismillahirrahmanirrahim”, Atas nama Allah, mewakili Allah, bersama Allah…, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang:

DERR…, Anda akan bekerja sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan berkarya sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan berbagi berkah dan rezki sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan memimpin sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan dipimpin sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan meneliti sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan belajar sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan mengajar dan mewejang sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan mengobati sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan menjadi suami sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan menjadi istri sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan menjadi orang tua sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan menjadi anak sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan mengasihi dan menyayangi sebagai seorang hamba Allah.

DERR…, Anda akan memarahi dan menghukumi sebagai seorang hamba Allah.

Ya…, anda semata-mata hanya seorang hamba Allah saja…, DERR

Hamba yang diliputi oleh Allah Yang Maha Meliputi…, DERR

Hamba yang panggil oleh Allah sebagai RUH-KU…, MIN RUHI…

Allahpun kemudia berkenan memanggil anda dengan Ya Ruhi…, DERR

Allahpun berkenan menyapa anda dengan Ya Ruhi…, DERR

Ya Ruhi…, Ya Ruhi…. Ya Ruhi…, DERR…

Dan andapun akan membalas sapaan itu dengan lembut.

Ya Ilahi…, Ya Ilahi…, Ya Ilahi…. DERR

Karena memang anda adalah Milik-Nya.

Sehingga andapun akan sering-sering bercengkrama dengan-Nya:

DERR…, anda akan duduk dalam ruang kesukacitaan yang tinggi…, Aflaha.

DERR…, anda akan duduk dalam ruang rukuk yang dalam…, warka’u.

DERR…, anda akan duduk dalam ruang sujud yang dalam…, wasjudu.

DERR…, akan akan duduk dalam ruang sembah yang khidmat…, wa’budu.

DERR…, anda akan duduk dalam ruang kedekatan yang amat sangat…, waqtarib.

DERR…, sesekali andapun akan dituntun-Nya untuk TIADA TOTAL.

Akhirnya anda akan menjadi orang yang SELESAI dengan Allah…

Anda akan melambaikan bendera putih kepada Allah..

Anda tidak akan pernah protes lagi kepada Allah…

Anda akan menyerah total kepada Allah…

Anda tinggal DERR…, DERR…, DERR…

Karena anda telah menjadi orang yang sudah percaya utuh kepada Allah…

Anda telah menjadi Mukminin…

Dan Allah juga sudah percaya penuh pula kepada anda..

Sebab Dia memang adalah Dzat Yang Maha Percaya, Al Mukmin…

Dengan sangat mengherankan, anda akan banyak bercerita tentang Allah…

Entah kenapa…, sedikit-sedikit anda akan berbicara tentang Allah…

Anda seakan ingin meneriakkan kepada semua orang tentang Allah…

Wahai semua, ada Allahku lho…

Wahai sahabat, ada Allahku lho…

Ada Allahku lho…

Anda akan menjadi orang yang begitu KASMARAN dengan Allah…

Secara otomatis anda juga akan banyak bercerita tentang Nabi Muhammad SAW…

Karena ilmu yang anda dapatkan saat ini adalah Warisan Beliau, dan warisan Nabi Ibrahim…

Subhanallah…., Walhamdulillah, wa Laa ilaha illallah, Wallahu Akbar…

Allahumma shalli `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad…

Kama shallai ta`ala Ibrahim wa `ala ali Ibrahim…

Wa barik `ala Muhammad wa `ala ali Muhammad…

Kama barak ta `ala Ibrahim wa `ala ali Ibrahim…

Fil `alamina innaka hamiidum majiid…

Assalamu `alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh…

Ah…, masih adakah realitas Iman yang lebih indah dan lebih mesra dari ini…?

Entahlah…, saya sungguh tidak tahu…

Ternyata BERIMAN atau TIDAK BERIMAN kepada Allah itu sebenarnya sama mudahnya…

Mau pilih yang mana…?

Wallahu a’lam…

Selesai Artikel “Sebenarnya Sama Mudahnya”

Wassalam

Deka

Cilegon, 21 Juli 2010

Jl. Kabel No. 16.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s