Kumpulan Kata Bijak Islami


Tiga sifat manusia yang merusak adalah : kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, serta sifat mengagumi diri sendiri yang berlebihan. ~ Nabi Muhammad Saw

Pahlawan bukanlah orang yang berani menetakkan pedangnya ke pundak lawan, tetapi pahlawan sebenarnya ialah orang yang sanggup menguasai dirinya dikala ia marah. ~ Nabi Muhammad Saw

Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seseorang tidak beriman hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. ~ Nabi Muhammad SAW

Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. ~ Nabi Muhammad SAW

Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia. ~ Nabi Muhammad SAW

Allah tidak melihat bentuk rupa dan harta benda kalian, tapi Dia melihat hati dan amal kalian. ~ Nabi Muhammad SAW

Kecintaan kepada Allah melingkupi hati, kecintaan ini membimbing hati dan bahkan merambah ke segala hal. ~ Imam Al Ghazali

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. ~ Khalifah ‘Umar

Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan. ~ Ibnu Mas’ud

Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. ~ Khalifah ‘Ali

Sabar memiliki dua sisi, sisi yang satu adalah sabar, sisi yang lain adalah bersyukur kepada Allah. ~ Ibnu Mas’ud

Takutlah kamu akan perbuatan dosa di saat sendirian, di saat inilah saksimu adalah juga hakimmu. ~ Khalifah ‘Ali

Orang yang paling aku sukai adalah dia yang menunjukkan kesalahanku. ~ Khalifah ‘Umar

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk. ~ Imam An Nawawi

Sesungguhnya seorang hamba itu bila merasa ujub kerana suatu perhiasan dunia, niscaya Allah akan murka kepadanya hingga dia melepaskan perhiasan itu. ~ Sayidina Abu Bakar

Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah.Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Barangsiapa takut kepada Allah SWT nescaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Orang yang bakhil itu tidak akan terlepas daripada salah satu daripada 4 sifat yang membinasakan yaitu : Ia akan mati dan hartanya akan diambil oleh warisnya, lalu dibelanjakan bukan pada tempatnya atau; hartanya akan diambil secara paksa oleh penguasa yang zalim atau; hartanya menjadi rebutan orang-orang jahat dan akan dipergunakan untuk kejahatan pula atau; adakalanya harta itu akan dicuri dan dipergunakan secara berfoya-foya pada jalan yang tidak berguna. ~ Sayidina Abu Bakar

Orang yang banyak ketawa itu kurang wibawanya. Orang yang suka menghina orang lain, dia juga akan dihina. Orang yang mencintai akhirat, dunia pasti menyertainya.
Barangsiapa menjaga kehormatan orang lain, pasti kehormatan dirinya akan terjaga. ~ Sayidina Umar bin Khattab

Hendaklah kamu lebih memperhatikan tentang bagaimana amalan itu diterima daripada banyak beramal, kerana sesungguhnya terlalu sedikit amalan yang disertai takwa. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Janganlah seseorang hamba itu mengharap selain kepada Tuhannya dan janganlah dia takut selain kepada dosanya. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Tiada sholat yang sempurna tanpa jiwa yang khusyu’.
Tiada puasa yang sempurna tanpa mencegah diri daripada perbuatan yang sia-sia.
Tiada kebaikan bagi pembaca al-Qur’an tanpa mengambil pangajaran daripadanya.
Tiada kebaikan bagi orang yang berilmu tanpa memiliki sifat wara’.
Tiada kebaikan mengambil teman tanpa saling sayang-menyayangi.
~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Tidak ada kebaikan ibadah yang tidak ada ilmunya dan tidak ada kebaikan ilmu yang tidak difahami dan tidak ada kebaikan bacaan kalau tidak ada perhatian untuknya. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Nikmat yang paling baik ialah nikmat yang kekal dimiliki.
Doa yang paling sempurna ialah doa yang dilandasi keikhlasan. Barangsiapa yang banyak bicara, maka banyak pula salahnya. Siapa yang banyak salahnya, maka hilanglah harga dirinya. Siapa yang hilang harga dirinya, bererti dia tidak wara’. Sedang orang yang tidak wara’ itu berarti hatinya telah mati. ~ Sayidina Ali Karamallahu Wajhah

Antara tanda-tanda orang yang bijaksana itu ialah :
1. Hatinya selalu berniat suci. Lidahnya selalu basah dengan zikrullah.
2. Kedua matanya menangis kerana penyesalan (terhadap dosa).
3. Segala perkara dihadapinya dengan sabar dan tabah.
4. Mengutamakan kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia.
~ Sayidina Utshman bin Affan

Tiada yang lebih baik dari dua kebaikan : Beriman pada Allah dan bermanfaat bagi manusia. Tiada yang lebih buruk dari dua kejahatan : Syirik pada Allah dan merugikan manusia.

Tiga tanda kesempurnaan iman : Kalau marah, marahnya tidak keluar dari kebenaran. Kalau senang, senangnya tidak membawanya pada kebatilan. Ketika mampu membalas, ia memaafkan.

Dengannya Allah kuburkan kedengkian, Dengannya Allah padamkan permusuhan; Melaluinya diikat persaudaraan; Yang hina dimulyakan. Yang tinggi direndahkan.

Jika orang dapat empat hal, ia dapat kebaikan dunia akhirat: Hati yang bersyukur, lidah yang berzikir, badan yang tabah pada cobaan, dan pasangan yang setia menjaga dirinya dan hartanya.

Nabi ditanya bermanfaatkah kebajikan setelah dosa? Ia menjawab: Taubat membersihkan dosa, kebaikan menghapuskan keburukan.

Manusia Paling baik adalah orang yang dermawan dan bersyukur dalam kelapangan, yang mendahulukan orang lain, bersabar dalam kesulitan.

Tiga manusia tidak akan dilawan kecuali oleh orang yang hina : orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya, orang cerdas cendikia dan imam yang adil.

Tiada musibah yang lebih besar daripada meremehkan dosa-odsamu dan merasa ridho dengan keadaan rohaniahmu sekarang ini.

Hati Adalah Ladang. Sesungguhnya setengah perkataan itu ada yang lebih keras dari batu, lebih tajam dari tusukan jarum, lebih pahit daripada jadam, dan lebih panas daripada bara. Sesungguhnya hati adalah ladang, maka tanamlah ia dengan perkataan yang baik, karna jika tidak tumbuh semuanya (perkataan yang tidak baik), niscaya tumbuh sebahagiannya.

** Dari berbagai sumber

Inilah Jawaban Iblis Kepada Nabi Muhammad SAW


Sumber: okezone.com

Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas:

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, tiba-tiba terdengar panggilan seseorang dari luar rumah: “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku.”  Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian siapa yang memanggil?” Kami menjawab: “Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Itu iblis, laknat Allah bersamanya”.

Umar bin Khattab berkata: “izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah”. Nabi menahannya: “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa yang hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik.”

Ibnu Abbas RA berkata: pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis berkata: “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin”,
Rasulullah SAW lalu menjawab: “Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai mahluk terlaknat, apa keperluanmu?” Iblis menjawab: “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa”. “Siapa yang memaksamu? ” “Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawabalah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin”.

“Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh”.

Orang yang Dibenci Iblis

Rasulullah SAW lalu bertanya kepada Iblis: “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?” Iblis segera menjawab: “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah mahkluk Allah yang paling aku benci.”

“Siapa selanjutnya?” tanya Rasulullah.

“Pemuda yang bertakwa yang memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”

“Lalu siapa lagi?”

“Orang Alim dan wara’ (Loyal)”

“Lalu siapa lagi?”

“Orang yang selalu bersuci.”

“Siapa lagi?”

“Seorang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannnya kepada orang lain.”

“Apa tanda kesabarannya?”

” Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang-orang yang sabar”.

“Selanjutnya apa?”

“Orang kaya yang bersyukur”

“Apa tanda kesyukurannya?”

“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya, dan mengeluarkannya juga dari tempatnya.”

“Orang seperti apa Abu Bakar menurutmu?”

“Ia tidak pernah menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”

“Umar bin Khattab?”

“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”

“Usman bin Affan?”

“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”

“Ali bin Abi Thalib?”

“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (Ali bin Abi Thalib selau berdzikir terhadap Allah SWT)

Amalan yang Dapat Menyakiti Iblis

“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak saalat?”

“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”

“Kenapa?”

“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”

“Jika seorang umatku berpuasa?”

“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”

“Jika ia berhaji?”

“Aku seperti orang gila.”

“Jika ia membaca Alquran?”

“Aku merasa meleleh laksana timah di atas api.”

“Jika ia bersedekah?”

“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”

“Mengapa bisa begitu?”

“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan apineraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”

“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”

“Suara kuda perang di jalan Allah.”

“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu?”

“Taubat orang yang bertaubat.”

“Apa yang dapat membakar hatimu?”

“Istighfar di waktu siang dan malam.”

“Apa yang dapat mencoreng wajahmu?”

“Sedekah yang diam – diam.”

“Apa yang dapat menusuk matamu?”

“Salat fajar”

“Apa yang dapat memukul kepalamu?”

“Saalat berjamaah.”

“Apa yang paling mengganggumu?”

“Majelis para ulama.”

“Bagaimana cara makanmu?”

“Dengan tangan kiri dan jariku.”

“Dimanakah kau menaungi anak – anakmu di musim panas?”

“Di bawah kuku manusia.”

Manusia yang Menjadi Teman Iblis

Nabi lalu bertanya: “Siapa temanmu wahai Iblis?”

“Pemakan riba”

“Siapa sahabatmu?”

“Pezina”

“Siapa teman tidurmu?”

“Pemabuk”

“Siapa tamumu?”

“Pencuri”

“Siapa utusanmu?”

“Tukang sihir”

“Apa yang membuatmu gembira?”

“Bersumpah dengan cerai”

“Siapa kekasihmu?”

“Orang yang meninggalkan salat Jumaat”

“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”

“Orang yang meninggalkan salatnya dengan sengaja”

Iblis Tidak Berdaya di Hadapan Orang Ikhlas

Rasulullah SAW lalu bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”

Iblis segera menimpali: ” Tidak! Tidak! Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikan ku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang saleh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”

“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”

“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

“Tidakkah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat seseorang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 anak – anaknya

Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak. Dan setiap anak memiliki 70.000 syaithan. Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk menggangu anak-anak muda, sebagian untuk menganggu orang-orang tua, sebagian untuk menggangu wanta-wanita tua, sebagian anak-anakku juga aku tugaskan kepada para Zahid.

Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada salat berjamaah. Tanpanya, manusia tidak akan mengantuk pada waktu salat berjamaah.

Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur dan pahalanya terhapus.

Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan maka ia beberkan kepada manusia lain, maka 99% pahalanya akan terhapus.

Pada setiap seorang wanita yang berjalan, anakku dan syaithan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya.

Syaithan juga berkata, “keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaithan pun menghiasi kukunya. Mereka, anak-anakku selalu meyusup dan berubah dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu yang lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka. Akhirnya mereka menyembah Allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.

Tahukah kamu, Muhammad? bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya, sembuh seketika. Aku terus menggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda

Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku?

Akulah mahluk pertama yang berdusta.

Pendusta adalah sahabatku. barangsiapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.

Tahukah kau Muhammad?

Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa dengan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku.

Kesaksian palsu kegembiraanku.

Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, isterinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak-anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur salat. Setiap ia hendak berdiri untuk salat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan salat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur ulur salat. Setiap ia hendak berdiri untuk salat, aku bisikan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia manundanya hingga ia melaksanakan salat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya kemukanya.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia salat. Namun aku bisikkan ke telinganya ‘lihat kiri dan kananmu’, ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku katakan ‘salatmu tidak sah’. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam salatnya akan dipukul.

Jika ia salat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun salat seperti ayam yang mematuk beras.

Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia salat berjamaah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkannya sebelum imam.
Kamu tahu bahwa melakukan itu batal salatnya dan wajahnya akan diubah menjadi wajah keledai.

Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam salat.

Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaithan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku.

Kebahagiaan apa untukmu, sedangan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan salat. Aku katakan padanya, “kamu tidak wajib salat, salat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau salat.”

Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan salat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.

Wahai Muhammad, jika aku berdusta Allah akan menjadikanku debu.

Wahai Muhammad, apakah kau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari Islam?”

10 Permintaan Iblis kepada Allah SWT

“Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”

“10 macam”

“Apa saja?”

“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, “Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikanlah mereka, tidaklah janji setan kecuali tipuan.” (QS Al-Isra :64). Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan yang bercampur dengan riba. Aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah.”

“Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah. Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaithan.”

“Aku minta agar bisa ikut bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal.

“Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku.”

“Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku.”

“Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku.”

“Aku minta agar Allah menjadikan pemabuk sebagai teman tidurku.”

“Aku minta agar Allah memberikanku saudara, maka Ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku.”

“Allah berfirman, “Orang – orang boros adalah saudara – saudara syaithan. ” (QS Al-Isra : 27)

Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, “silahkan”, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
Iblis berkata: “Wahai Muhammad, aku tak bisa menyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikan dan menggoda.”

Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorangpun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya Rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang yang telah ditentukan sengsara.
Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak di perut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu membaca ayat:

“Mereka akan terus berselisih kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT” (QS Hud :118 – 119).

Juga membaca,

” Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku” (QS Al-Ahzab: 38)

Iblis lalu berkata: ” Wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha Suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para nabi dan rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin mahluk-mahluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong.” (*)

Mencintai Karena Kelebihan, Menyayangi Karena Kekurangan


Oleh : Ashoff Murtadha

Cintai seseorang karena kelebihannya, dan sayangi ia karena kekurangannya…

Engkau mencintai seseorang, tentu karena kelebihannya membuatmu kagum… Engkau tidak mungkin mencintainya tanpa sesuatu yang membuat hatimu tergerak.. Sekalipun cinta tidak selalu logis (sehingga tidak membutuhkan logika), namun tentu ada sebab yang membuatmu mencintai.. Dan apa pun bentuknya, sesuatu itu adalah kelebihan yang terdapat pada orang yang kaucintai, dalam pandanganmu…

Dan engkau menyayangi seseorang, karena ia dalam posisi lemah di matamu.. Sebab itulah engkau menyayanginya… Menyayangi bukan karena kelebihan, tetapi karena kekurangan; bukan karena kekuatan, melainkan karena kelemahan…

Jika cinta bisa terjadi pada orang yang berada pada posisi lebih tinggi, sederajat, atau di bawah… maka sayang hanya terjadi pada orang yang sedang dalam posisi kuat, kepada yang lebih lemah…

Kepada Tuhan dan Nabi, manusia hanya bisa mencintai, tidak mungkin menyayangi… Karena Tuhan dan Nabi berposisi sangat kuat di atas manusia biasa… Keduanya adalah keunggulan, bukan kelemahan dan kekurangan… Sehingga, tidak tepat kita mengucapkan, “Aku sayang Allah, aku sayang Rasulullah.” Yang lebih tepat adalah, “Aku cinta Allah, aku cinta Rasulullah…”

Allah mencintai (hubb) orang-orang tertentu dari hamba-hamba-Nya, karena mereka telah membuat-Nya kagum: DIA memuji mereka karena kelebihannya. Karena itulah kecintaan-Nya dianugerahkan kepada mereka…

Namun, DIA tetap menyayangi (rahmah) para hamba-Nya, karena mereka adalah makhluk lemah… Dan kasih sayang-Nya tetap disebarkan kepada siapa pun…

Perbedaan antara cinta dan kasih sayang, adalah: jika kasih sayang bisa diberikan kepada siapa pun, namun tidak demikian dengan cinta… Cinta hanya diberikan kepada orang yang memiliki keutamaan (kelebihan) di mata pecintanya…

Maka, jika seseorang membuatmu kagum, cintailah… Dan jika ia membuatmu terenyuh, sayangilah… Terlebih kepada orang-orang terdekat dalam kehidupanmu…

Jika cintamu menghilang dari seseorang yang tidak lagi membuatmu kagum karena kelebihannya, maka engkau tetap bisa berbuat baik kepadanya dengan menyayangi…

Jika engkau tidak bisa mencintai seseorang karena tidak kautemukan kelebihannya di matamu, maka sayangilah ia karena ia lemah dalam pandanganmu…

Namun sejujurnya, adakah orang yang tidak memiliki kelebihan… dan juga kekurangan…? Tentu, setiap orang memiliki keduanya sekaligus… Dan karena ia memiliki keduanya, berarti siapa pun layak dicintai dan disayangi: dicintai karena kelebihannya, disayangi karena kekurangannya…

Do’a Malam Nuzulul Qur’an.17 Ramadhan 1432 H


Bismillahirrahmanirrahim
Ya Allah…ya Tuhan kami…
Aku memohon kepada-MuMuliakanlah kami.
Bahagiakan Keluarga kami.
Kuatkan iman kami.
Berkahi rizki kami.
Beri kenikmatan dalam beribadah.
Hiasilah hati kami dengan kesabaran dan kasih sayang

Yaa Allah ya rabbil Izzati..

Jadikan kami termasuk orang yang Engkau RAHMATI dalam 10 hari pertama Ramadhan.
Yang Engkau AMPUNI dosa2nya dalam 10 hari yang kemudian.
Yang Engkau BEBASKAN dari api Neraka dalam 10 hari sisanya.

Dan Engkau beri kesempatan kami untuk bermunajat kepada-Mu di malam Lailatul Qhadar.

Kabulkanlah do’a-do’a kami,

peliharalah kesehatan dan cinta kamiAmiin yaa rabbal a’lamin

Do’a


Ya Allah …
Berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya,
seperti yang Engkau berikan pada Ibrahim dan keluarganya.
Berilah berkah kepada Muhammad dan keluarganya,
sebagaimana yang Engkau berikan pada Ibrahim dan keluarganya.

Allahuma Ya Allah …
Tiada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang selain Engkau,
Engkau curahkan kasih-Mu pada makhluk-Mu seakan-akan Engkau memerlukan mereka,
padahal Engkau sama sekali tidak memerlukan semua itu.

Tlah banyak karunia yang Engkau berikan kepadaku,
tlah banyak Engkau limpahkan rezeki-Mu padaku, tak terhingga nikmat Engkau yang
telah aku rasakan, namun demikian, aku seringkali lalai mensyukurinya,
aku seringkali membangkang pada-Mu …
Janganlah karena kealpaan itu Engkau murkai aku Ya Allah,
tapi teteskanlah Ya Allah seberkas cahaya-Mu pada hatiku,
karena tanpa bantuan-Mu mustahil aku dapat mensyukuri nikmat-nikmat Mu,
mustahil aku dapat selalu taat kepada-Mu, mustahil aku dapat menggunakan harta yang Engkau
titipkan padaku sebagai sarana untuk pengabdian kepada-Mu.

Ya Allah hanya Engkau Yang Maha Kuat,
aku ini lemah ya Allah …..
Tanpa bantuan-Mu tidaklah mungkin aku dapat mengalahkan setan dan hawa nafsu
yang mengajak kepada kesesatan, tanpa bantuan-Mu tidaklah mungkin aku dapat selalu tegar
dalam mengabdi kepada-Mu, tanpa petunjuk-Mu pasti akan tersesat ya Allah …

Lindungilah aku dari perbuatan-perbuatan yang dapat mengotori jiwaku,
kuatkanlah imanku agar aku dapat tegar menghadapi segala cobaan-Mu …

Wahai Tuhanku Yang Maha Agung …
Jadikanlah cintaku kepada-Mu melebihi kecintaanku kepada selain Engkau,
jadikan rasa takutku kepada-Mu melebihi rasa takut kepada selain Engkau,
ingatkanlah selau padaku akan tujuan Engkau menciptakan aku ….
Arahkanlah aku kepada jalan yang lurus, sesuai dengan jalannya orang yang telah Engkau berkahi, bukannya jalan orang yang telah Engkau murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat…

Ya Allah junjungan hati orang yang beriman ….
Terimalah ibadahku,
terimalah shalatku,
terimalah sedekahku
terimalah zikirku ….
Maafkanlah bila ibadahku tercampur dengan riya’
Ampunilah bila amal saleh yang aku lakukan tidak dengan seluruh keihlasan hatiku ….

Ya Allah Yang Maha Pengasih …
Janganlah Engkau hukum aku bila aku terlupa mengingat-Mu
jangan Engkau tinggalkan aku bila aku lalai mengangungkan-Mu
dan jangan pula Engkau biarkan aku bila terperosok dalam perangkap kenikmatan dunia …

Allahuma Ya Allah …
Maksiat yang kulakukan tidaklah untuk menentang-Mu, bukan pula karena mengabaikan siksa-Mu, ataupun menantang hukum-Mu, tetapi semata-mata karena kebodohan dan kelemahanku terjerat hawa nafsu belaka ….
kasihanilah aku karena kelemahanku ini Ya Allah …

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim …
Aku bermohon kepada-Mu, penuhilah kalbuku dengan cinta dan rasa takut kepada-Mu, dengan keyakinan dan keimanan pada-Mu, serta dengan rindu dan rasa takut berpisah dengan-Mu …
Bimbinglah agar aku dapat meningkatkan akhlakky mengikuti akhlak Nabi-Mu yang mulia Muhammad saw …
Bantulah aku agar aku mampu bersyukur kepada-Mu …

Allahuma Ya Allah …
Engkau menampakkan kepadaku rasa kasih sayang-Mu dengan nikmat-nikmat-Mu, tapi aku menimpalinya dengan banyak dosa-dosa … Turun kepadaku kebaikan-Mu tetapi naik kepada Mu kejelekan-kejelekanku ..
Walaupun malaikan senantiasa datang kepada-Mu membawa perbuatan-perbuatanku yang buruk, tapi hal itu tidak mencegah Engkau untuk menyebar belas kasih-Mu dang menganugerahkan nikmat-Mu ….
Besar sudah bencana yang aku buat, berlebihan sudah kejelekanku, rendah benar amal-amalku, berat benar belenggu malasku, dunia dengan tipu dayanya telah memperdayaiku.

Wahai junjunganku …..
Aku bermohon pada-Mu dengan segala kekuasaan-Mu, jangan Kau tututp doaku karena kejelekan amal dan perangaiku, anugerahkan padaku manisnya ampunan-Mu, dan lezatnya magfirah-Mu ….
Perbaiki shalatku dengan curahan anugerah-Mu, keluarkan dari hatiku kecintaan pada dunia sebagimana yang telah Engkau lakukan terhadap hamba-hamba pilihan Mu sebelum aku ..

Wahai Zat yang paling baik untuk dimintai permohonannya ….
yang paling murah pemberiannya ….
yang paling royal kasih sayangnya …
Bawalah aka dalam bahtera keselamatan-Mu,
karuniailah aku kelezatan bermunajat kepada-Mu,
curahkanlah kepadaku cinta-Mu, cicipkanlah kepadaku kasih sayang-Mu, tumbuhkanlah dalam hatiku kegemaran untuk taat kepada-Mu, tuluskanlah niatku dalam beribadah kepada – Mu….

Wahai Tuhanku yang menguasai seluruh alam semesta …
Aku meminta-Mu dengan penuh tunduk, kerendahan dan kekhusukan … Ampunilah aku serta rahmatilah diriku,

Ya Allah Yang Maha Pengatur dan Maha Suci …
Jadikan aku hamba-Mu yang selalu rela dan puas dengan pemberian-Mu, selalu rendah hati dalam bertingkah laku …. Jadikan aku yang paling istimewa diantara pengenal-Mu, yang paling tulus diantara orang yang menaati-Mu, yang paling ikhlas dalam mengabdi kepada-Mu …

Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pengampun …
Ampunilah dosa-dosa kedua orang tuaku,
kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku semenjak aku masih dalam kandungan, peliharalah mereka sebagaimana mereka telah memelihara aku dengan kasih sayang,
sayangilah mereka sebagaimana mereka mencintaiku, berilah mereka petunjuk sebagaimana mereka telah mengajari aku, dan lindungilah mereka dari gangguan makhluk Engkau sebagaimana mereka membela aku bila aku di zalimi …

Ya Allah Penguasa Hari Akhir ….
Aku sadar cepat atau lambat aku pasti kembali kepada Engkau dengan meninggalkan harta benda yang telah aku miliki, meninggalkan anak-anakku yang aku cintai …
Aku sadar bahwa aku akan menghadapi sakratulmaut, pada saat itu bantulah aku agar dapat mengingat Engkau, bantulah aku agar dapat mati dalam khusnulkhatimah…
Ya Allah ….
Berilah aku kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat, Hindarkan aku dari siksa kubur-Mu, jauhkan tempatku kelak dari api neraka-Mu ….

Laa hawla walaa quwwata illa billaah …….
Alhamdulillahirabilallamiin …

Refferensi: “Muatan Cinta Ilahi” Syaikh Muhammad Mahdi Al-Ashify”

“Dikutip dari : Bahan Renungan Kalbu – Ir Permadi Alibasyah”

Sedekah, rahasia kita dan Allah Ta’ala


Sumber: Arrahmah.

Memberi memang bukanlah hal yang luar biasa yang dilakukan manusia. Sebagai Muslim Allah memerintahkan kita untuk berbagi kepada sesama. Tapi sudahkah kita memberi dengan niat ihklas hanya karena Allah?

Sungguh susah keihklasan dalam bersedekah itu muncul. Sering kali penyakit riya’menghantui niat kita. Kisah ini mungkin akan memberi kita inspirasi, bahwa memberi, bersedekah, sepatutnya hanya menjadi rahasia kita dan Allah semata. Hal tersebut menjauhkan kita kita dari penyakit hati  berupa riya’ dan angkuh, yang akan menghilangkan pahala bersedekah kita.

***

Iram, dan adiknya, Ahmed, gembira ketika memasuki bulan Ramadhan. Bagi mereka Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk belajar mempraktekkan hal-hal yang telah mereka pelajari, tentang bagaimnana peduli dan memikirkan nasib orang lain yang tidak mampu.

Mereka berdua telah menyimpan uang mereka sepanjang tahun. Iram, yang berusia tujuh tahun, duduk di tempat tidurnya dan mengeluarkan wadah celengannya yang berisi ratusan uang koin. Ketika dibuka koin menggelinding tertutup selimut.

“Kita punya banyak uang. Ibu mengatakan kita seharusnya membantu seseorang. Ibu ingin agar uang yang  kita miliki digunakan untuk membantu seseorang yang tidak mampu. ” kata Iram sambil mengumpulkan uang koin yang berjatuhan.

“Keluarkan wadah celenganmu, Ahmed” kata Iram pada kakaknya. Ahmed kemudian mengeluarkan koin dari Guci ke atas tempat tidur. “Wow Kita bisa melakukan banyak hal untuk seseorang dengan semua uang ini,” kata Ahmed sambil tersenyum. “Ini adalah waktu khusus dalam satu tahun. Aku senang kita dapat membantu orang lain..”

“Tapi kita harus melakukannya diam-diam, Ahmed, ingat kita harus memilih seseorang dan melakukan sesuatu yang sangat bagus tanpa mereka sadari hal itu dari kita.. Siapa yang harus kita pilih?” tanya Iram.

“Mari kita minta tetangga kita, Rashid, dan Fatima. Saya melihat bahwa mereka memiliki sepatu yang sudah berlubang dan rusak, “kata Ahmed.

“Itu ide yang baik. Kita bisa membeli beberapa sepatu baru untuk mereka” kata Iram.

“Mari membeli beberapa sepatu baru bagi mereka Ramadhan ini” kata Ahmed sambil tersenyum.

Iram dan Ahmed menemukan ibu mereka sibuk mencuci beberapa piring. Dia melihat anak-anaknya masuk ke dapur. “Kami ingin membantu orang miskin. Ahmed dan saya telah menabung uang kami sepanjang tahun dan kami ingin membantu Rashid dan Fatima, tetangga kami,” kata Iram pada ibunya.

Ahmed dengan kegembiraan, menyela, “Kami ingin membeli mereka beberapa sepatu.”

Mama tersenyum pada anak-anak. Dia begitu bangga terhadap mereka. “Apakah kalian ingin aku mengantar kalian toko untuk membeli sepatu?” tanya ibu. Iram dan Ahmed mengangguk. Kemudian mereka pergi ke toko sepatu.

Mereka berjalan ke toko sepatu dan masuk ke dalamIram memilih sepasang sepatu untuk Fatima. Ahmed memilih sepasang untuk Rashid. Mereka berdua sangat bangga bahwa mereka telah menabung uang mereka sehingga mereka bisa melakukan sesuatu untuk membantu orang lain.

Mereka pulang dan membungkus kotak sepatu dengan kertas cokelat polos. Mereka menunggu dengan cemas malam datang, karena malam ini mereka akan memberikan hadiah mereka.

Di luar sudah gelap. Mama mengantar anak-anak pergi untuk memberikan hadiah mereka. Setelah memakai mantel mereka berjalan diam-diam ke rumah Rashid dan Fatima.

Mama berbisik, “Baiklah, anak-anak, kita harus tenang dan melakukannya dengan sangat cepat. Ahmed, kauAnda mengetuk pintu dan kemudian kembali kesini, ke semak-semak, di mana Iram dan aku akan bersembunyi. Kita akan menyaksikan mereka datang dan menemukan hadiah mereka. “

Iram dan Mama bersembunyi, dan Ahmed berjingkat ke pintu. Dia meletakkan kedua kotak di atas teras, dan mengetuk keras. Lalu ia berlari, dan berlari, dan berlari, secepat dia bisa, ke tempat Iram dan Mama.

“Ssst,” bisik Mama. “Seseorang membuka pintu.”

Mereka mengamati Rashid dan Fatima keluar ke teras. “Lihat Ada hadiah untuk kita. Seseorang meninggalkannya di sini,” teriak Rasyid dengan gembira.

Dia dan Fatima melihat sekeliling. Sangat gelap dan mereka tidak bisa melihat siapa pun. Mereka mengambil kotak dan membawanya masuk.

Setelah satu atau dua menit, menunggu untuk memastikan mereka tidak akan terlihat, Momma, Ahmed, dan Iram, menyelinap diam-diam kembali ke rumah mereka. Dan dengan bersemangat menceritakan kepada ayah mereka.

“Mereka tidak melihat kami, Pappa. Mereka tidak tahu bahwa hadiah itu dari kita”.

Mama dan Pappa berdiri kembali dan memandang anak-anak mereka. Mereka begitu bangga terhadap mereka. Mereka tahu anak-anak mereka tahu arti sebenarnya dari sebuah pengorbanan.

Keesokan paginya, seperti Momma, Pappa, Iram, dan Ahmed pergi ke mobil mereka untuk melaju ke kota, mereka melihat Rashid dan Fatima bermain di luar. Mereka berdua mengenakan sepatu baru mereka. Tidak ada yang mengatakan sesuatu. Iram dan Ahmed hanya tersenyum. Itu adalah Ramadhan terbaik yang mereka miliki.

***

Kisah diatas adalah sekelumit kisah tentang anak manusia yang begitu ingin merasakan ‘nikmat’ memberi. Ketika tangan kanan di atas, mereka berusaha menyembunyikan agar tangan kirinya tak mengetahui hal tersebut. Mari kita berkaca pada diri kita. Sudah kah kita melakukan hal demikian. Melakukan kebaikan tapi tetap berharap agar tak seorangpun yang mengetahuinya selain Allah SWT.

Menanamkan sikap suka bersedekah hendaklah ditanamkan semenjak dini. dengan demikian anak-anak kita kelak tidak tumbuh menjadi generasi yang kikir dan terlalu mencintai harta. Serta menjadi generasi yang peduli pada lingkungan sekitar, bukan generasi yang egois dan sibuk mengumpulkan harta dunia untuk kepentingan diri sendiri,

Semoga Ramadhan ini akan menjadi bulan pembelajaran bagi kita untuk menjadi ahli sedekah sehingga kelak Allah SWT mengumpulkan kita bersama orang-orang yang senang bersedekah dengan hanya mengharap ridha Allah SWT. Wallohua’lam. (rasularasy/arrahmah.com)

Teman …. Jangan Marah … !!


Dikutip dari : arrahmah

Marah, sepertinya hal yang sering kita lakukan, entah itu kepada orang yang tidak kita suka, kepada temen, saudara, pasangan hidup kita atau mungkin kepada anak kita. Apalagi di saat kita pulang kerja, badan capek, letih, di rumah ada masalah, kayaknya pengennya marah-marah.

Coba kita latih untuk meredam emosi kita. Soalnya sebagai orang beriman ada beberapa dalil yang perlu kita perhatikan, di dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits banyak yang memerintahkan kita untuk menahan marah.

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran – 134)

Dari Abu Hurairah Ra., seorang lelaki berkata pada Rasulullah Saw, berilah saya nasehat. Rasulullah Saw bersabda “Janganlah engkau marah” Rasulullah mengulang-ulang pada ucapannya.(HR. Bukhari)

Banyak Hikmah Yang Kita Dapat Dari Menahan Emosi Kita.

1. Mungkin ada hikmah dari yang membuat kita emosi.

Di dalam surat Al-Baqarah ayat 216 diterangkan,

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia sangat baik untukmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.”

Dari ayat ini kita bisa ambil hikmah dari sesuatu yang membuat kita emosi bukan berarti buruk untuk kita, mungkin sesuatu yang baik untuk kita, jadi jangan marah dulu, renungkan masalah yang sedang menimpa kita. Atau malah marah kita hanya untuk menutupi kekurangan kita.

2. Tidak ada penghalang antara do’a kita dan Allah.

Nah, kalau yang membuat emosi kita itu sifatnya penganiayaan pada diri kita, kita juga tidak perlu emosi, karena dengan bersabar terhadap penganiayaan itu, adalah sesuatu yang sangat hebat, yaitu doa orang yang dianiaya wajib dikabulkan oleh Allah SWT.

“Takutlah kamu pada do’anya orang yang dianiaya, maka sesungguhnya do’anya orang yang dianiaya tidak ada penghalang antara do’a dan Allah.” (HR. Tirmidzi)

3. Akan menjadi orang terkuat.

Di dalam hadits Rasulullah Saw bersabda :

“Orang yang kuat bukanlah orang yang hebat dalam bertengkar, sesungguhnya orang yang kuat adalah orang yang bisa menahan emosi ketika harus marah.” (HR. Bukhari)

Bukti orang yang emosi lemah dibuktikan oleh Muhammad Ali dengan julukan si mulut besar, setiap akan melakukan pertandingan dia selalu melakukan psi-war ke lawan mainnya, tujuannya supaya lawannya terpancing emosinya saat bertanding, jika emosinya sudah terpancing mainnya tidak bisa konsentrasi jadilah Muhammad Ali sebagai pemenang dalam pertandingan itu. (Hehehe…)

Imbalan Yang Akan Diterima Disisi Allah :

1. Allah akan memasukkan kedalam Surga.

Dalam surat Ali Imran 133-134 Allah Swt berfirman,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

2. Menjadi pemimpin ahli Surga.

“Barangsiapa yang dapat menahan marah ketika dia harus marah maka Allah akan memanggilnya bersama para pemimpin mahluk sehingga dia disuruh memilih bidadari yang dia mau.” (HR. Tirmidzi)

Cara Mencegah Marah :

1. Berwudhu.

“Sesungguhnya marah-marah dari Setan, dan sesungguhnya setan diciptakan dari api, dan sesungguhnya api dimatikan dengan air. Maka ketika salah satu kalian marah-marah maka hendaklah berwudhu.” (HR. Abu Dawud)

2. Rubah posisi.

“Ketika salah satu kalian marah dalam keadaan berdiri maka hendaklah duduk, maka hilang marah-marahnya. Dan jika tidak hilang maka hendaklah berbaring.” (HR. Abu dawud)

3. Redam ego.

Orang marah biasanya karena egonya naik, cobalah untuk merendahkan ego serendah-rendahnya,insya Allah emosi kita bisa terkendali.

Semoga nasehat-nasehat yang disadur dari kalamullah dan hadith-hadith Rasulullah Saw menjadi penyejuk hati bagi yang ingin marah, dan bagi yang sedang marah, bersabarlah, karena sabar itu separuh dari Iman. Karena sabar akan senantiasa menjadikanmu mulia disisi Robbul IzzatiAllah jalla wa’ala. Semoga bermanfaat!

Wallahu a’lam bish showab, Walhamdulillahi robbil a’lamin..

Your Brother,

Muhammad Jibriel Abdul Rahman

Bayang-bayang Nabi


(Oleh Kang Jaz)

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan para pemimpin ?
“Membela yang lemah dan membantu yang miskin” jawab Nabi.

Ya Rasulullah, apa yang harus dilakukan ulama ?
Memberi contoh yang baik dan mendukung pemimpin
Yang membela orang – arang lemah” jawabnya

Ya Rasulullah … apa yang harus dilakukan orang-orang lemah dan miskin ?
“Bersabarlah, dan tetaplah bersabar
Jangan kau lihat pemimpinmu yang suka harta
Jangan kau ikuti ulamamu yang mendekati mereka
Jangan kau temani orang-orang yang menjilat mereka
Jangan kau lepaskan pandanganmu dari para pemimpin dan ulama yang hidupnya juhud dari harta”

Ya Rasulullah… Pemimpin seperti itu sudah tidak ada
Ulama seperti itu sudah menghilang entah kemana
Yang tersisa adalah pemimpin serakah
Yang tertinggal adalah ulama-ulama yang tama’
Banyak rakyat yang mengikuti keserakahan mereka
Ummat banyak yang meneladani ketamakan mereka !
Apa yang harus aku lakukan, Ya… Rasulullah !
Siapa yang harus aku angkat jadi pemimpin ?
Siapa yang harus aku ikuti fatwa-fatwanya ?
Siapa yang harus aku jadikan teman setia ?

“Wahai ummatku…
Tinggalkan mereka semua
Dunia tidak akan bertambah baik sebab mereka
Bertemanlah dengan anak dan istrimu saja
Karena Allah menganjurkan, “Wa ‘asiruhunna bil ma’ruf”
Ikutilah fatwa hatimu
Karena hadits mengatakan, “Istafti qalbaka, wa in aftaukan nas waftauka waftauka”
Dan angkatlah dirimu menjadi pemimpin
Bukankah, “Kullulkum Ra’in, ea kullukum masulun ‘an ra’iyyatihi ?”

Kiat Agar Selalu Bersyukur


Sumber: Hidayatullah

Salah satu kenikmatan yang dianugerahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya adalah rasa syukur. Nikmat inilah yang akan menggolongkan seseorang apakah termasuk manusia kufur atau sebaliknya, pandai bersyukur.

Untuk menjadi hamba yang senantiasa bersyukur kita harus memahami prinsip-prinsip berikut ini.

1. Memahami Makna dan Hakekat Syukur

Ar-Raghib al-Asfahani dalam bukunya al-Mufradat fii Gharib al-Quran menyatakan syukur sebagai gambaran kenikmatan yang diterima seseorang yang tercermin dalam penampilannya.

Dasar dari kata ‘syukur’ adalah ‘membuka’. Kebalikan dari kata ‘kufur’ yang berarti ‘menutup’. Dalam kamus bahasa Indonesia, ‘syukur’ berarti rasa terima kasih.

Hakekat syukur adalah menampakkan nikmat Allah Ta’ala dengan menyebut-nyebut Sang Pemberi nikmat secara lisan. Sedangkan kufur adalah menyembunyikan nikmat-Nya.
Dengan demikian, syukur adalah bagaimana menampakkan nikmat sesuai dengan fungsi dan kegunaannya melalui petunjuk al-Qur`an dan al-Hadits.

Allah Ta’ala berfirman, ”Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (adh-Dhuha [93]: 11)

2. Menerima Syukur Sebagai Kewajiban

Allah Ta’ala berfirman, ”Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku,” (al-Baqarah:152).

Sebagian ulama menjelaskan bahwa ayat ini mengandung perintah untuk mengingat Allah Ta’ala tanpa melupakan-Nya, patuh kepada-Nya tanpa mendurhakai-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa makna bersyukur sebenarnya menghadirkan Allah Ta’ala di segenap nikmat-nikmat-Nya. Dengan mensyukuri nikmat-Nya maka secara otomatis kita telah mengakui eksistensi Allah Ta’ala dalam kehidupan ini.

3. Meninggalkan Kufur Nikmat

Qarun adalah simbol manusia yang mengingkari nikmat dan anugerah Allah Ta’ala. Bahkan, dia berani menegaskan kalau semua yang diperolehnya semata-mata karena kemampuannya. Dengan kata lain, ia telah kufur nikmat.

Firman Allah Ta’ala, ”Qarun berkata, ’Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.’ Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu tentang dosa-dosa mereka,” (al-Qashshas [28]:78).

Adapun untuk mewujudkan syukur yang sempurna, kita harus memenuhi ruang lingkup berikut ini.

1. Berawal dari Pribadi

Allah Ta’ala berfirman, ”Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia mensyukuri dirinya sendiri dan barang siapa yang kufur maka sesungguhnya Tuhan-Ku Maha Kaya lagi Mulia,” (an-Naml [27]: 40).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) juga bersabda, ”Allah senang melihat (bukti) nikmat-Nya dalam penampilan hamba-Nya,” (Riwayat Tarmizi).

Implementasi syukur ada pada perbuatan dan tindakan nyata sehari-hari. Makna inilah yang dipahami Rasulullah SAW ketika ‘Aisyah, isteri beliau, mendapati beliau senantiasa melaksanakan shalat malam tanpa henti. Bahkan, seakan-akan memaksakan diri hingga kakinya bengkak-bengkak.

Saat ditanya oleh ‘Aisyah apa latar belakang kesungguhan beribadah tersebut, Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah (pantas jika) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur?” (Riwayat Bukhari).
Dalam hal ini, Ibnul Qayyim menyebutkan tiga dimensi yang harus ada dalam bersyukur.

Pertama, bersyukur dengan lisan

Wujudnya adalah pengakuan terhadap nikmat Allah Ta’ala sambil memuji-Nya dengan ungkapan ‘alhamdulillah’. Ungkapan ini disampaikan secara lisan kepada Yang Dipuji, secara ikhlas dengan pengakuan yang mendalam, dan dengan penuh kekaguman.

Menurut ahli bahasa, kata ‘alhamdulillah’ disebut sebagai al-istighraq, yang mengandung arti ‘keseluruhan’.
Yang paling berhak menerima segala pujian hanya Allah Ta’ala, bahkan segala pujian harus tertuju dan bermuara kepada-Nya saja.

Jika mata dan hati kita secara sadar menyaksikan dan merasakan nikmat yang tak ternilai harganya, maka akan terurailah kata-kata itu sebagaimana firman Allah Ta’ala, ”Seandainya kamu (akan) menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya,” (Ibrahim [14]: 34).

Kedua, bersyukur dengan hati

Dimensi syukur ini dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat yang diperoleh semata-mata karena anugerah dan kemurahan Allah Ta’ala. Syukur dengan hati mengantar manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa keberatan, betapa pun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur ini memberikan kesadaran betapa besarnya kemurahan dan kasih sayang Allah Ta’ala sehingga terlontar dari lidahnya pujian kepada-Nya.

Bahkan, syukur yang berangkat dari hati dan pikiran seperti ini akan terekspresi dalam bentuk sujud, yakni sujud syukur.

Ketiga, bersyukur dengan perbuatan

Seluruh anggota badan manusia diciptakan Allah Ta’ala sebagai nikmat. Implementasi dari rasa syukur ini adalah dengan menggunakan semua anggota tubuh tersebut untuk hal-hal yang positif saja.
Shalat seseorang merupakan bukti syukurnya. Puasa dan zakat seseorang juga bukti syukurnya. Apapun kebaikan yang dilakukan seseorang karena Allah Ta’ala adalah implementasi syukur.

Hal ini disimpulkan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi bahwa syukur pada intinya adalah bertakwa kepada Allah Ta’ala dengan beribadah dan beramal shaleh.

2. Lingkup Keluarga

Teladan Nabi Daud Alaihissalam dalam bersyukur tergambar dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Rasulullah SAW bersabda, “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Nabi Daud; ia tidur setengah malam, kemudian bangun sepertiganya dan tidur seperenam malam. Puasa yang paling dicintai Allah juga adalah Puasa Daud; ia puasa sehari, kemudian ia berbuka di hari berikutnya, dan begitu seterusnya.”
Dalam riwayat Ibnu Abi Hatim dari Tsabit Al-Bunani dijelaskan bagaimana Nabi Daud membagi waktu shalat istri, anak, dan seluruh keluarganya, sehingga tidak ada sedikit waktu pun, baik siang maupun malam, kecuali ada salah seorang dari mereka sedang menjalankan shalat (sesuai syariat Nabi Daud).

Dalam hal mencari rezeki, keteladanan Nabi Daud juga diabadikan dalam beberapa Hadits yang menyebut tentang keutamaan bekerja. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seseorang itu makan makanan lebih baik dari hasil kerja tangannya sendiri. Karena sesungguhnya Nabi Daud senantiasa makan dari hasil kerja tangannya sendiri.”

Nabi Daud bekerja tentunya bukan atas dasar tuntutan kebutuhan hidup karena ia seorang raja yang sudah tercukupi kebutuhannya. Namun, ia memilih sesuatu yang utama sebagai wujud rasa syukurnya yang tiada terhingga kepada Allah Ta’ala.

3. Lingkup Negara

Wujud syukur dalam lingkup ini adalah dengan menegakkan syariat Islam. Allah Ta’ala berfirman, ”Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui,” (al-Jaatsiyah [45]: 18).
Penerapan syariat Islam merupakan rasa syukur atas nikmat iman dan Islam, terlebih di negeri-negeri Muslim yang tengah dilanda berbagai macam krisis kehidupan.

Kewajiban menegakkan syariat Islam menjadi konsekuensi sekaligus solusi atas berbagai persoalan umat. Syariat Islam dibebankan kepada setiap mukallaf, pemimpin, dan orang yang memiliki tanggungjawab, baik lembaga negara atau lainnya.

Semua diperintahkan untuk menegakkan keadilan, amar ma’ruf nahi munkar, dan menghukum sesuai dengan hukum Allah Ta’ala. Rasulullah SAW dan para Sahabat telah melaksanakan tugas tersebut. Nabi Muhammad SAW, telah menegakkan syariat di seluruh aspek kehidupan, sejak berdirinya negara Madinah Al-Munawarah, hingga setelah beliau wafat.

Kita sudah memahami bahwa kekuatan hukum yang dibuat oleh lembaga yang lebih tinggi tidak boleh ditentang oleh lembaga yang lebih rendah. Syariat Islam merupakan hukum yang tertinggi. Karenanya, tidak boleh ada aturan yang dibuat manusia yang bertentangan dengan aturan Allah Ta’ala.
Wallahu a’lam bish shawab. ***